Category Archives: Wisata

Jejak Bung Karno di Bengkulu

Standard

Rumah-Bung-KarnoKalau anda ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke rumah kediaman Bung Karno pada zaman perjuangan dulu. Rumah yang pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama ketika diasingkan oleh Belanda pada 14 Februari 1938 sampai dengan 9 Juli 1942 itu, telah menjadi salah satu bangunan yang bersejarah di Kota Bengkulu. Rumah itu kini tampak bersahaja dengan halaman luas di depannya. Dulu, ketika Bung Karno menempatinya, tentu tidak seperti itu, karena pada 19 Agustus 1985 sudah dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Menurut beberapa referensi, Bung Karno datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan sebuah bus Auto Dienst Staats Spoor (ADSS) dari Lubuk Linggau. Bung Karno dan keluarganya (Istrinya Inggit dan dua anak angkat mereka Kartika dan Ratna) menempuh perjalanan dari Ende ke Batavia lalu sampai di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Untuk biaya hidup Bung Karno selama di pengasingan itu, ia diberi uang saku sebanyak 90 Gulden perbulan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas politik sang nasionalis bernama lengkap Soekarno itu tentu saja menjadi penyebab dia diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Selama masa pengasingan, Bung Karno diperbolehkan melakukan aktivitas seperti kebanyakan masyarakat. Akan tetapi dia tidak boleh melakukan aktivitas politik. Setiap hari, untuk mengamati aktivitas Bung Karno ini Belanda menempatkan pasukannya pada pos penjaga yang berada di seberang jalan rumah kediamannya. Penjaga ini tidak hanya mengawasi kegiatan Bung Karno, tetapi juga mencatat identitas siapa saja orang yang mengunjunginya.

Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu copyHaji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu (diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1996) menuliskan bahwa sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki kebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yang Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif memimpin olah raga dan kegiatan kesenian siswa. Pada masa pengasingan di Bengkulu itu juga Bung Karno aktif memimpin kelompok sandiwara Monte Carlo. Hasil pertunjukan sandiwara Monte Carlo itu digunakan untuk biaya pemugaran Masjid Jamik Kota Bengkulu.

Rumah bersejarah itu tempat pengasingan Bung Karno itu terletak di Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah ini barangkali menjadi saksi sejarah perjalanan cinta segi tiga Seokarno dengan istrinya sendiri Inggit serta putri Bengkulu, Fatmawati, yang kemudian dikenal sebagai penjahit bendara pusaka merah putih.

Menurut beberapa cerita yang dipungut dari orang-orang disekitar rumah kediaman Bung Karno, rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Tapi versi lain menyebutkan bahwa rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Namun informasi lain menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur inderneming Van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kemudian dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian yang merupakan pengusaha penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

Rumah kediaman Bung Karno ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Jendela juga berbentuk persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas.

IMG_1077Di rumah yang dibangun pada tahun 1918 ini tentunya pengunjung bisa melihat beberapa koleksi buku Bung Karno, foto kegiatan beliau selama di Bengkulu, sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan peralatan rumah lainnya. Kalau Anda sempat berkunjung ke Bumi Raflesia itu, jangan lupa, singgahlah ke rumah dimana Bung Karno pernah bernaung di dalamnya dan memikirkan nasib republik ini selama empat tahun.

Kalau ingin cenderamata atau tanda bukti anda mengunjungi tanah kelahiran Ibu Negara Fatmawati, tidak jauh dari kediaman Bung Karno banyak pedagang menjual cenderamata dan makanan khas Bengkulu. Kalau sekadar untuk berfoto, di depan rumah bersejarah itu biasa digunakan pengunjung untuk berpose. (Azwar Sutan Malaka)

 

 

Tim Ahli Cagar Budaya

Standard

Rumah-Bung-Karno

Indonesia adalah salah satu negara yang mendapat kritik dari arkeolog internasional karena memiliki Undang-Undang tentang perlindungan cagar budaya, akan tetapi tidak melaksanakan amanat Undang-Undang tersebut. Kritikan itu salah satunya terkait lambannya pemerintah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya bersertifikat untuk menginventarisasi benda cagar budaya di Indonesia. Salah satu amanat Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya adalah pemerintah membentuk Tim Ahli Cagar Budaya dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Sayangnya hal tersebut sampai saat ini masih belum dilaksanakan, Tim Ahli Cagar Budaya yang terbentuk baru di tingkat pusat yang anggotanya sebanyak 15 orang, ini jelas mengkhawatirkan.

Kebutuhan Tim Ahli Cagar Budaya ini sangat mendesak, jika masih belum ada maka kerja menginventarisasi dan melindungi benda cagar budaya akan sulit untuk dilaksanakan. Selain itu yang juga menjadi permasalahan adalah orang-orang yang akan menjadi Tim Ahli Cagar Budaya yang terbatas. Salah satu unsur tim ahli terdiri dari arkeolog, di Indonesia saat ini lulusan arkelogi masih minim, karena dari sekian banyak perguruan tinggi, hanya ada empat universitas yang memiliki program studi arkeologi, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Udayana, Universitas Gajah Mada dan Universitas Hasanudin.

Oleh sebab itu harus ada upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membuka program studi Arkeologi. Saat ini Universitas Jambi dan Universitas Andalas, sudah mengajukan pembukaan program studi Arkeologi. Sayangnya Ditjen Perguruan Tinggi Kemdikbud masih belum memberikan izin untuk pembukaan program studi Arkeologi di kedua universitas tersebut.

Ke depan, Indonesia setidaknya membutuhkan 520 arkeolog untuk menjadi Tim Ahli Cagar Budaya. Jika pembukaan program studi Arkeologi di Universitas Jambi ini diresmikan pemerintah, artinya Universitas Jambi akan menjadi perguruan tinggi ke lima di Indonesia dan perguruan tinggi yang pertama di Pulau Sumatera yang memiliki program studi Arkeologi. Universitas Jambi adalah perguruan tinggi yang paling memungkinkan untuk membuka prodi Arkeologi karena Universitas Jambi sudah bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan pemerintah daerah Jambi untuk membuka program studi Arkeologi di Universitas Jambi.

Kemdikbud pun sudah memberikan sedikit kelonggaran untuk mendirikan program studi Arkeologi di Universitas Jambi, dengan mengizinkan menggunakan dosen terbang sebagai tenaga pengajar dan mempermudah calon dosen untuk diterima di perguruan tinggi tersebut, dan UI pun sudah siap menjadi universitas pembina untuk program studi Arkeologi di Universitas Jambi. Upaya mendirikan program studi Arkelogi di Universitas Jambi dan Universitas Andalas adalah upaya jangka panjang untuk menghasilkan arkeolog yang memahami benda-benda cagar budaya yang saat ini jumlahnya sangat banyak di Jambi khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Lebih jauh, upaya mendirikan program studi yang melahirkan sarjana arkeologi itu adalah usaha Pemerintah untuk memajukan kebudayaan yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945, bahwa kebudayaan dan masyarakat pendukungnya perlu dijaga sebagai pengikat bangsa Indonesia yang terdiri dari lebih 500 suku bangsa dengan ciri khas kebudayaan yang berbeda-beda.

Industri Wisata yang Menghilangkan Lokalitas

Standard

Tembok Cina

Oleh: Azwar Sutan Malaka

Sudah lama tak ke Bukittinggi, akhirnya melalui media massa dan sosial media  mendengar kabar kemajuan kampung halaman ini. Janjang Saribu yang dulu hanya tangga sederhana untuk melihat keindahan Ngarai Sianok direnovasi dan diubah namanya menjadi The Great Wall of Koto Gadang, yang bentuknya mengadopsi salah satu Tujuh Keajaiban Dunia “Tembok Besar Cina”. Agar gampang dikenali msyarakat dunia, namanya pun diganti dengan bahasa internasional itu.

Secara administratif sebenarnya Ngarai Sianok terletak di Kabupaten Agam, sehingga program pembentukan destinasi wisata baru ini dipelopori oleh pemerintah Kabupaten Agam. Bersama Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring yang juga putra Agam ini, pemerintah Kabupaten Agam meresmikan pembukaan objek wisata baru melengkapi Janjang Saribu di sekitar Ngarai Sianok itu.

Hadirnya Janjang Saribu model baru yang menyerupai Tembok Besar Cina tentu saja memberi efek positif bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dan juga Kota Bukittinggi. Sebagai daerah tujuan wisata, kedua daerah ini perlu menghadirkan wajah baru tempat wisata mereka melengkapi berbagai tempat wisata yang sudah ada seperti Lubang Japang, Panorama, Jam Gadang, Istana Negara Triarga, Kebun Binatang Kinantan, Benteng Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh.

Baiklah.., kali ini saya tidak akan mengulas keelokan tempat wisata ini lebih jauh, akan tetapi justru mempertanyakan konsep kreatif pembangunan tempat wisata ini. Pertanyaannya adalah mengapa harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Kenapa tidak dibuat dengan arsitektur Minangkabau saja? Apakah kalau memang seperti kabar angin yang menyampaikan bahwa berubahnya Janjang Saribu menjadi The Great Wall of Koto Gadang yang mengadopsi Tembok Besar Cina, bahkan sampai pada arsitekturnya itu karena pesanan penyandang modal, lalu harus menghilangkan nilai-nilai budaya lokal?

Kenapa pembangunan objek wisata baru itu justru harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Mengapa tidak dipertahankan saja nama Janjang Saribu seperti yang sudah ada sebelumnya? Ini pertanyaan mendasar berkaitan dengan arah pembangunan wisata daerah, khususnya di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Kritik yang menyatakan bahwa membangun objek wisata dengan meniru pada objek wisata negara lain akan menghilangkan kesan lokalitas, tentu saja perlu diperhatikan. Betapa tidak, contoh nyata saja Janjang Saribu yang sudah bertahun-tahun di tempat itu kemudian tertutupi popularitasnya oleh Tembok Besar yang baru dibangun itu. Secara historis pun tidak ada alasan membuat bangunan yang menyerupai Tembok Besar Cina di Kabupaten Agam, karena sejarah tidak mempertemukan Ranah Minang dengan negeri Tiongkok itu, selain hanya karena Ranah Minang menjadi salah satu tempat perantauan bagi orang-orang Tiongkok.

Dibandingkan Lubang Japang diberi nama seperti itu atau Benteng Fort de Kock tentu saja hal ini berbeda. Lubang Japang diberi nama embel-embel Jepang itu tentu karena latar historis pembangunan terowongan yang sangat panjang di bawah Kota Bukittinggi itu tidak terlepas dari sejarah pendudukan Jepang di Bukittinggi. Selain itu Benteng Fort de Kock diberi nama seperti terkait Jenderal Belanda yang berperan besar membangun benteng di Kota Bukittinggi pada zaman penjajahan dulu.

Nah.., Tembok Besar Cina? Apa alasannya kemudian pemerintah Kabupaten Agam atau Kota Bukittinggi mengadopsi Tembok Besar Cina? Tentu saja tidak ada alasan yang jelas, kecuali kepentingan industri wisata saja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak matangnya rencana pembangunan wisata di daerah setempat dan tidak adanya itikad baik untuk membangun wisata yang berbasis lokalitas. Hal ini tentu saja harus menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar ke depan memikirkan dengan matang pembukaan objek wisata baru di daerah.

Membangun Wisata Berbasis Lokal

Standard

Gambar

Sebagai daerah yang memiliki geografis berbukit dan berlembah, tak heran jika Bukittinggi memiliki banyak tangga yang dalam bahasa setempat disebut juga dengan janjang. Tentang hal ini tentu saja kita sudah tak asing dengan Janjang Ampek Puluah yang menghubungkan Pasar Bawah dan Pasar Atas Kota Bukittinggi. Selain Janjang Ampek Puluah ada juga Janjang Saribu yang menghubungkan antara Lobang Japang atau Panorama dengan Ngarai Sianok. Namun kepopuleran Janjang Saribu tertutupi oleh Janjang Ampek Puluah di kota itu.

Barangkali karena alasan itu jugalah, Janjang Saribu baru-baru ini diubah menjadi Tembok Besar Koto Gadang, yang mengadopsi salah satu Tujuh Keajaiban Dunia “Tembok Besar Cina” agar gampang dikenali msyarakat dunia, namanya pun diganti dengan bahasa internasional yaitu The Great Wall of Koto Gadang. Hadirnya Janjang Saribu model baru yang menyerupai Tembok Besar Cina tentu saja memberi efek positif bagi pemerintah daerah Kabupaten Agam dan juga Kota Bukittinggi. Sebagai daerah tujuan wisata, kedua daerah ini perlu menghadirkan wajah baru tempat wisata mereka melengkapi berbagai tempat wisata yang sudah ada seperti Lubang Japang, Panorama, Jam Gadang, Istana Negara Triarga, Kebun Binatang Kinantan, Benten Fort de Kock dan Jembatan Limpapeh.

Melupakan kisah indah di balik Janjang Seribu ini juga hadir berbagai kritik soal arah pembangunan wisata daerah di Bukittinggi. Apakah kalau memang seperti kabar angin yang menyampaikan bahwa berubahnya Janjang Saribu menjadi The Great Wall of Koto Gadang yang mengadopsi Tembok Besar Cina,  bahkan sampai pada arsitekturnya itu karena pesanan penyandang modal, lalu harus menghilangkan nilai-nilai budaya lokal? Kenapa pembangunan objek wisata baru itu justru harus mengadopsi Tembok Besar Cina? Mengapa tidak dipertahankan saja Janjang Saribu seperti yang sudah ada sebelumnya? Ini pertanyaan mendasar berkaitan dengan arah pembangunan wisata daerah, khususnya di Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Kritik yang menyatakan bahwa membangun objek wisata dengan meniru pada objek wisata negara lain akan menghilangkan kesan lokalitas, tentu saja perlu diperhatikan. Betapa tidak, contoh nyata saja Janjang Saribu yang sudah bertahun-tahun di tempat itu kemudian tertutupi popularitasnya oleh Tembok Besar yang baru dibangun itu. Secara historis pun tidak ada alasan membuat bangunan yang menyerupai Tembok Besar Cina itu. Dibandingkan Lubang Japang diberi nama seperti itu atau Benteng Fort de Kock tentu saja hal ini berbeda. Lubang Japang diberi nama embel-embel Jepang itu tentu karena latar historis pembangunan terowongan yang sangat panjang di bawah Kota Bukittinggi itu tidak terlepas dari sejarah pendudukan Jepang di Bukittinggi. Selain itu Benteng Fort de Kock diberi nama seperti terkait Jenderal Belanda yang berperan besar membangun benteng di Kota Bukittinggi pada zaman penjajahan dulu.

Nah.., Tembok Besar Cina? Apa alasannya kemudian pemerintah Kabupaten Agam atau Kota Bukittinggi mengadopsi Tembok Besar Cina? Tentu saja tidak ada alasan yang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak matangnya rencana pembangunan wisata di daerah setempat dan tidak adanya itikad baik untuk membangun wisata yang berbasis lokalitas setempat. Hal ini tentu saja harus menjadi catatan bagi pemerintah setempat agar ke depan memikirkan dengan matang pembukaan objek wisata baru di daerah.

Jejak Bung Karno di Bengkulu

Standard

Rumah-Bung-Karno

Kalau anda ke Bengkulu, jangan lupa singgah ke rumah kediaman Bung Karno pada zaman perjuangan dulu. Rumah yang pernah ditempati oleh Presiden Republik Indonesia (RI) pertama ketika diasingkan oleh Belanda pada 14 Februari 1938 sampai dengan 9 Juli 1942 itu, telah menjadi salah satu bangunan yang bersejarah di Kota Bengkulu. Rumah itu kini tampak bersahaja dengan halaman luas di depannya. Dulu, ketika Bung Karno menempatinya, tentu tidak seperti itu, karena pada 19 Agustus 1985 sudah dipugar dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Menurut beberapa referensi, Bung Karno datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan sebuah bus Auto Dienst Staats Spoor (ADSS) dari Lubuk Linggau. Bung Karno dan keluarganya (Istrinya Inggit dan dua anak angkat mereka Kartika dan Ratna) menempuh perjalanan dari Ende ke Batavia lalu sampai di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Untuk biaya hidup Bung Karno selama di pengasingan itu, ia diberi uang saku sebanyak 90 Gulden perbulan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Aktivitas politik sang nasionalis bernama lengkap Soekarno itu tentu saja menjadi penyebab dia diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Selama masa pengasingan, Bung Karno diperbolehkan melakukan aktivitas seperti kebanyakan masyarakat. Akan tetapi dia tidak boleh melakukan aktivitas politik. Setiap hari, untuk mengamati aktivitas Bung Karno ini Belanda menempatkan pasukannya pada pos penjaga yang berada di seberang jalan rumah kediamannya. Penjaga ini tidak hanya mengawasi kegiatan Bung Karno, tetapi juga mencatat identitas siapa saja orang yang mengunjunginya.

Haji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu (diterbitkan oleh penerbit Balai Pustaka tahun 1996) menuliskan bahwa sebagai orang tahanan Bung Karno tentu saja tidak memiliki kebebasan, kemanapun ia pergi, pejabat Politieke Inlichtingen Dienst (PID) selalu mengikutinya. Karena pengawalan yang ketat dari Belanda itu, Bung Karno hanya beraktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial. Contohnya saja dalam bidang pendidikan, Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu saat itu yang Hasan Din, meminta Bung Karno untuk mengajar di perguruan Muhammadiyah Bengkulu. Ketika itu Bung Karno mengajarkan tentang pembaruan Islam di perguruan Muhammadiyah tersebut. Sementara itu di perguruan Taman Siswa, Bung Karno aktif memimpin olah raga dan kegiatan kesenian siswa. Pada masa pengasingan di Bengkulu itu juga Bung Karno aktif memimpin kelompok sandiwara Monte Carlo. Hasil pertunjukan sandiwara Monte Carlo itu digunakan untuk biaya pemugaran Masjid Jamik Kota Bengkulu.

Rumah bersejarah itu tempat pengasingan Bung Karno itu terletak di Jalan Soekarno – Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Rumah ini barangkali menjadi saksi sejarah perjalanan cinta segi tiga Seokarno dengan istrinya sendiri Inggit serta putri Bengkulu, Fatmawati, yang kemudian dikenal sebagai penjahit bendara pusaka merah putih.

Menurut beberapa cerita yang dipungut dari orang-orang disekitar rumah kediaman Bung Karno, rumah pengasingan di Bengkulu itu sebenarnya dihadiahkan oleh seorang muslim Tionghoa kepada Bung Karno. Tapi versi lain menyebutkan bahwa rumah tersebut semula adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu.

Namun informasi lain menyebutkan bahwa rumah yang ditempati oleh Bung Karno di Bengkulu itu adalah rumah bekas administratur inderneming Van der Vossen yang punya pabrik kebun sirih di Pantai Panjang. Rumah itu kemudian dibeli oleh seorang pengusaha keturunan Cina bernama Tan Eng Cian yang merupakan pengusaha penyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda.

Rumah kediaman Bung Karno ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Jendela juga berbentuk persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas.

Di rumah yang dibangun pada tahun 1918 ini tentunya pengunjung bisa melihat beberapa koleksi buku Bung Karno, foto kegiatan beliau selama di Bengkulu, sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan peralatan rumah lainnya. Kalau Anda sempat berkunjung ke Bumi Raflesia itu, jangan lupa, singgahlah ke rumah dimana Bung Karno pernah bernaung di dalamnya dan memikirkan nasib republik ini selama empat tahun.

Kalau ingin cenderamata atau tanda bukti anda mengunjungi tanah kelahiran Ibu Negara Fatmawati, tidak jauh dari kediaman Bung Karno banyak pedagang menjual cenderamata dan makanan khas Bengkulu. Kalau sekadar untuk berfoto, di depan rumah bersejarah itu biasa digunakan pengunjung untuk berpose. (Azwar Sutan Malaka)

Pesona Lembah Harau

Standard

Lembah Harau

Minangkabau tidak hanya dikenal sebagai satu-satunya kebudayaan yang menganut sistem matrilineal di nusantara, akan tetapi juga dikenal sebagai daerah yang menyimpan banyak destinasi wisata. Banyak alasan mengapa negeri Bundo Kanduang ini menjadi destinasi wisata yang harus dikunjungi, di antaranya adalah karena kelezatan dan keberagaman kuliner serta keelokan alamnya.

Salah satu daerah yang menjadi tujuan wisata di daerah ini adalah Lembah Harau, sebuah tempat yang telah dinobatkan menjadi Taman Wisata oleh pemerintah setempat. Lembah Harau terletak di Luhak Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sekitar 15 KM dari kota Payakumbuh atau 47 KM dari kota Bukittinggi.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di daerah sekitar Lembah Harau, lembah seluas 270,5 hektar ini dahulu kala adalah bagian dari lautan. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan bahwa dahulu ada sebuah keluarga kerajaan yang berlayar dari daratan Asia ke daerah Nusantara ini. Ketika sampai di Pulau Perca (Andalas, Sumatera) mereka terdampar di sebuah selat kecil karena perahu mereka tertahan oleh akar-akar pohon yang menjuntai hingga ke selat itu. Agar perahu tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu. Batu itu kemudian dinamakan Batu Tambatan Perahu. Hingga sekarang, kalau anda sempat berkunjung ke Lembah Harau, anda bisa melihat batu bersejarah ini.

Ketika keluarga kerajaan dengan satu orang anak mereka yang bernama Puti Sari Banilai itu kebingungan mencari tempat berlindung, datanglah masyarakat setempat menyelamatkan mereka dan membawa kepada Raja di daerah itu. Karena kebaikan Raja di daerah Lembah Harau itu, Puti Sari Banilai beserta ayah dan ibunya bisa selamat. Karena merasa berhutang budi, orang tua Puti Sari Banilai menikahkan anak mereka dengan anak Raja setempat yang bernama Rambun Paneh.

Namun pernikahan itu menjadi biang bencana, karena sebelum berlayar sebenarnya Puti Sari Banilai sang putri raja sudah mengikat janji dengan kekasihnya yang bernama Bujang Juaro. Sebelum berlayar mereka berjanji untuk sehidup semati. Salah satu yang mengingkari janji mereka akan terkena sumpah. Sumpah mereka adalah kalau Puti Sari Banilai berpaling kepada lelaki lain, Puti Sari Banilai akan berubah menjadi batu. Sementara itu kalau Bujang Juaro yang berpaling kepada perempuan lain ia akan menjadi ular.

Singkat cerita, Puti Sari Banilai menikah dengan Rambun Paneh. Pernikahan itu dikarunia seorang anak lelaki yang tampan. Suatu hari anak Puti Sari Banilai itu sedang bermain, lalu mainan anak itu terjatuh ke dalam laut. Si Ibu, Puti Sari Banilai melompat ke laut itu untuk mengambil mainan anaknya. Saat itu serta merta ombak menghempaskan Puti Sari Banilai ke celah batu. Dalam keadaan seperti itu dia teringat akan janjinya dengan Bujang Juaro, dia sedih dan minta ampun kepada Tuhan karena telah melanggar sumpahnya dengan Bujang Juaro. Saat itu dia meminta kepada Tuhan agar lautan itu kering hingga kelak orang-orang bisa mengenangnya. Tuhan mengabulkan permintaan Puti Sari Banilai, Laut seketika menjadi surut sehingga terhamparlah sebuah lembah yang luas. Sementara itu Perlahan tubuh Puti Sari Banilai berubah menjadi batu. Begitulah cerita orang-orang tentang asal usul Lembah Harau itu. Saat ini batu yang konon kabarnyan adalah tubuh Puti Sari Banilai bisa dijumpai di kawasan Lembah Harau, yang telah resmi menjadi Taman Wisata pada tahun 1979.

Walaupun baru ditetapkan menjadi Taman Wisata pada tahun 1979, akan tetapi Lembah Harau sudah menjadi tujuan wisatawan, baik dari dalam atau luar negeri sejak sebelum kemerdekaan. Hal itu dibuktikan oleh sebuah monumen peninggalan yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta. Monumen bertahun 1926 itu merupakan bukti bahwa Lembah Harau sudah sering dikunjungi orang sejak zaman dulu.  Pada monumen itu tertera tandatangan Asisten Residen Belanda di Lima Puluh Kota saat itu, F. Rinner dan dua pejabat Minangkabau, Tuanku Laras Datuk Kuning dan Datuk Kodoh Nan Hitam.

Di cagar alam dan suaka margasatwa Lembah Harau itu terdapat berbagai spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi yang dilindungi. Selain itu juga terdapat sejumlah binatang langka asli Sumatera seperti Monyet ekor panjang (Macaca fascirulatis). Monyet ekor panjang itu merupakan hewan yang acap terlihat di kawasan ini. Hewan ini jinak dan suka bermain dalam kerumunan pengunjung.

Binatang lainnya yang hidup di suaka margasatwa ini adalah Siamang (Hylobatessyndactylus), Simpai (Presbytis melalopos), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Beruang (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing Hutan (Capriconis sumatrensis) dan Landak (Proechidna bruijnii). Selain itu juga terdapat berbagai jenis burung seperti burung Kuau (Argusianus argus) dan Enggang (Anthrococeros sp).

Lembah Harau tidak sekadar menyimpan keindahan alam saja, tetapi juga memeliki empat air terjun yang memesona yaitu Sarasah Aia Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai dan Sarasah Aie Angek. Pada Sarasah Aie Luluih, terdapat pemandangan alam nan indah, dimana pada air terjun ini, air mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri. Pada Sarasah Bunta dimana sarasah ini mempunyai air terjunnya yang berunta-unta indah seperti bidadari yang sedang mandi diterpa sinar matahari siang. Karena hal itu pulalah dinamakan Sarasah Bunta. Sedangkan pada Sarasah Murai, pada siang hari di air terjun ini sering kali dijumpai burung murai mandi sambil memadu kasih. Karena hal itu masyarakat menamakan Sarasah Murai . Sementara itu pada Sarasah Aie Angek yang artinya air terjun air panas, dinamakan sedemikian karena daerah itu memiliki sumber mata air panas. (Azwar Sutan Malaka)