Tag Archives: Azwar Sutan Malaka

Resensi Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka

Standard
Resensi Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka

Covernya sederhana, seorang anak laki laki berdiri sambil menutupi mukanya dengan meninggalkan celah untuk kedua matanya memandang. Pose yang boleh jadi akan dilakukan oleh dedek dedek gemes manakala sedang ketakutan, atau ketika merasa malu tapi mau yang ditandai dengan dua bola mata mengintip dari sela jemarinya. Dari punggung tangan sebelah tepi anak laki laki itu, terlukis wajah harimau lengkap dengan tiga kumis tegak melintang di kedua sisinya. Sehingga apabila dilihat secara menyeluruh, maka akan terlihat seorang anak laki laki dengan wajah harimau. Hal ini sesuai dengan judul buku ini, Cindaku.

Read the rest of this entry

Advertisements

Membaca Sastra Membaca Dunia

Standard
Membaca Sastra Membaca Dunia

img_20161102_174449

Buku ini adalah esai-esai terpilih tentang sastra yang saya tulis antara tahun 2001 sampai dengan 2013. Tulisan ini sudah diterbitkan di berbagai media seperti Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa buku-buku tentang kritik sastra sangat langka, apalagi kritik sastra yang ditulis dengan sederhana (kritik sastra populer). Read the rest of this entry

Pak Dulah

Standard
Pak Dulah

Pak Dulah. Sebenarnya nama aslinya adalah Sucipto. Tetapi semenjak bergabung dengan Partai Padi Bulan dia memakai nama hijrah Abdullah dan orang-orang sering memanggilnya Pak Dullah. Tentang pergantian nama itu, Sucipto mengatakan, namanya tidak cocok dengan partai barunya. Makanya kepada salah seorang pengurus pusat partainya dia minta saran nama apa yang bagus untuknya.Setelah menerima masukan dan pertimbangan yang matang akhirnya Sucipto mengganti namanya dengan Abdullah.

Read the rest of this entry

Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Standard
Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Hans Berten dalam bukunya Literary Theory: The Basic, disimpulkan secara bebas, menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidaklah murni produk penulis itu sendiri, tetapi lebih jauh karya sastra adalah produk sosial budaya yang mengelilingi dan mempengaruhi si penulis. Hal ini tentunya sesuai dengan ungkapan fiksi adalah cerminan kenyataan dan kenyataan adalah sumber dari fiksi.

Read the rest of this entry

Menyelami Literasi Bersama FLP Ciputat

Standard
Menyelami Literasi Bersama FLP Ciputat

Sabtu 22 Oktober 2016, Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Ciputat didukung oleh DEMA Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengadakan studium general dengan tema “Selami Dunia Literasi, Temukan Jati Diri, Ciptakan Karya Abadi.” Acara tersebut dilaksanakan di Auditorium FKIK Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan menghadirkan penulis-penulis diantaranya Azwar Sutan Malaka, Aida MA, dan Risma el Jundi.

Read the rest of this entry

Indang Sungai Garinggiang

Standard
Indang Sungai Garinggiang

Imran meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta dengan harapan segala masalah yang menghimpit kepalanya tinggal di bandara itu, sehingga dia bisa tidur tanpa ada yang mengganggu pikirannya di atas pesawat selama satu setengah jam sebelum sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Dia menyenandungkan lagu  I’m Sory I Love You yang menjadi lagu kesukaannya. Sambil memejamkan mata, Imran menghapus segala ingatan tentang kemelut dengan istrinya. Tak didengarnya suara petugas pesawat yang merdu menyampaikan perintah standar penerbangan, tidak diperhatikannya pramugari yang sedang memperagakan cara memasang alat keamanan pesawat. Ia hanya ingin menenangkan diri walau hanya sesaat.

Read the rest of this entry

Pembuat Luka dalam Cerpen Indang Sungai Garinggiang

Standard

Cerpen “Indang Sungai Garinggiang” adalah salah satu karya Azwar Sutan Malaka yang dimuat pada Harian Rakyat Sumbar pada hari Sabtu, 15 Oktober 2016. Cerpen ini berkisah tentang luka karena sebuah pertemuan yang singkat. Lebih tepatnya tentang Si Pembuat Luka. Laki-laki yang sering melukai perasaan wanita. Pertemuan singkat bagi sebagian orang barangkali hanya persoalan biasa, tapi tidak untuk orang-orang yang tersentuh hatinya.

Read the rest of this entry