Tag Archives: Karya Sastra

TERPIKAT MITOS

Standard
TERPIKAT MITOS

thumb-350-688916

Sumber gambar: https://wall.alphacoders.com

Catatan Atas Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka[1]

Oleh: Muhammad Mihradi[2]

NOVEL CINDAKU, karya Azwar Sutan Malaka, berkisah tentang si tokoh “Salim” dalam menjalani lorong kehidupannya dengan segala “asam” getirnya. Salim, anak Celek, orang sakti dizamannya. Celek  saat itu dinilai “jahat”: tukang pelet dan tukang santet. Sebenarnya, kata jahat itu sendiri harus diletakkan dalam tanda petik. Karena Celek, panggilan dari Sutan Said, berlaku demikian diproduksi oleh lingkungan. Celek produk dendam. Ibunya meninggal terbunuh dan adiknya dinodai oleh pasukan pusat—yang tengah mengatasi pemberontakan pasukan lokal[3] di depan matanya. Read the rest of this entry

Membaca Sastra Membaca Dunia

Standard
Membaca Sastra Membaca Dunia

img_20161102_174449

Buku ini adalah esai-esai terpilih tentang sastra yang saya tulis antara tahun 2001 sampai dengan 2013. Tulisan ini sudah diterbitkan di berbagai media seperti Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa buku-buku tentang kritik sastra sangat langka, apalagi kritik sastra yang ditulis dengan sederhana (kritik sastra populer). Read the rest of this entry

Indang Sungai Garinggiang

Standard
Indang Sungai Garinggiang

Imran meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta dengan harapan segala masalah yang menghimpit kepalanya tinggal di bandara itu, sehingga dia bisa tidur tanpa ada yang mengganggu pikirannya di atas pesawat selama satu setengah jam sebelum sampai di Bandara Internasional Minangkabau. Dia menyenandungkan lagu  I’m Sory I Love You yang menjadi lagu kesukaannya. Sambil memejamkan mata, Imran menghapus segala ingatan tentang kemelut dengan istrinya. Tak didengarnya suara petugas pesawat yang merdu menyampaikan perintah standar penerbangan, tidak diperhatikannya pramugari yang sedang memperagakan cara memasang alat keamanan pesawat. Ia hanya ingin menenangkan diri walau hanya sesaat.

Read the rest of this entry