Tag Archives: Kritik Sastra

TERPIKAT MITOS

Standard
TERPIKAT MITOS

thumb-350-688916

Sumber gambar: https://wall.alphacoders.com

Catatan Atas Novel Cindaku Karya Azwar Sutan Malaka[1]

Oleh: Muhammad Mihradi[2]

NOVEL CINDAKU, karya Azwar Sutan Malaka, berkisah tentang si tokoh “Salim” dalam menjalani lorong kehidupannya dengan segala “asam” getirnya. Salim, anak Celek, orang sakti dizamannya. Celek  saat itu dinilai “jahat”: tukang pelet dan tukang santet. Sebenarnya, kata jahat itu sendiri harus diletakkan dalam tanda petik. Karena Celek, panggilan dari Sutan Said, berlaku demikian diproduksi oleh lingkungan. Celek produk dendam. Ibunya meninggal terbunuh dan adiknya dinodai oleh pasukan pusat—yang tengah mengatasi pemberontakan pasukan lokal[3] di depan matanya. Read the rest of this entry

Esai-Esai Terpilih Tentang Sastra

Standard
Esai-Esai Terpilih Tentang Sastra

Judul               : Membaca Sastra Membaca Dunia

Penulis             : Azwar, S.S., M.Si.

Penerbit           : Basa Basi

Tahun Terbit    : Desember 2016

Harga              : Rp. 50.000

Buku Membaca Sastra Membaca Dunia merupakan kumpulan esai tentang sastra. Buku ini berisi esai-esai terpilih tentang sastra yang ditulis oleh Azwar antara tahun 2001 sampai dengan 2013. Sebagaimana yang ditulis dalam kata pengantar buku ini, penulis menyatakan bahwa tulisan dalam buku ini sudah diterbitkan di berbagai media seperti Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili dan lain sebagainya. Read the rest of this entry

Membaca Sastra Membaca Dunia

Standard
Membaca Sastra Membaca Dunia

img_20161102_174449

Buku ini adalah esai-esai terpilih tentang sastra yang saya tulis antara tahun 2001 sampai dengan 2013. Tulisan ini sudah diterbitkan di berbagai media seperti Harian Singgalang, Harian Padang Ekspres, Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili dan lain sebagainya. Saya menyadari bahwa buku-buku tentang kritik sastra sangat langka, apalagi kritik sastra yang ditulis dengan sederhana (kritik sastra populer). Read the rest of this entry

Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Standard
Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Hans Berten dalam bukunya Literary Theory: The Basic, disimpulkan secara bebas, menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidaklah murni produk penulis itu sendiri, tetapi lebih jauh karya sastra adalah produk sosial budaya yang mengelilingi dan mempengaruhi si penulis. Hal ini tentunya sesuai dengan ungkapan fiksi adalah cerminan kenyataan dan kenyataan adalah sumber dari fiksi.

Read the rest of this entry

Mitos dan Modernitas Korea

Standard
Mitos dan Modernitas Korea

Mitos dan Modernitas Korea

(Analisis terhadap Cerpen “Kisah Singkat Tentang Pekarangan”, Karya Shin Kyong Suk)

 

Oleh: Azwar Sutan Malaka

 Korea4

Sumber foto dari fb Elly Delfia

“…mitos dan modernitas ibarat dua sisi mata uang yang selalu saja tidak bisa dipisahkan. Yang pertama (mitos) selalu mengiringi yang kedua (modernitas) dan yang kedua seolah-olah tidak bisa berdiri tanpa yang pertama…”

Contoh sederhana tentang pernyataan di atas adalah seperti menjadi pentingnya kulit putih bagi perempuan. Atau menjadi perlunya memiliki badan kekar bagi lelaki. Mitos yang dibangun dalam dunia modern adalah bahwa perempuan yang catik haruslah memiliki kulit yang putih atau lelaki yang menarik adalah lelaki yang memiliki badan kekar. Padahal yang sebenarnya adalah cantik tidak harus berkulit putih ataupun pria yang menarik tidak harus berbadan kekar. Mitos seperti di atas perlu dibangun oleh industri-industri yang berkepentingan untuk menjual produk mereka seperti pemutih untuk wanita atau vitamin agar pria berbadan kekar. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pemilik industri bisa mendapatkan materi yang sebesar-besarnya dari kehidupan masyarakat.

Apa yang diuraikan di atas adalah bentuk-bentuk mitos yang sengaja di bangun di zaman modern. Oleh sebab itu jangan menyimpulkan bahwa masyarakat modern itu adalah masyarakat yang selalu berpikir rasional. Jangan pula mengira kalau orang-orang modern tidak bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat di luar nalar manusia. Setidaknya pesan itulah yang disampaikan oleh tulisan di atas. Hal lain yang bisa dilihat bahwa mitos masih melekat di dalam kehidupan masyarakat modern adalah seperti di dalam cerita pendek yang berjudul “Kisah Singkat Tentang Pekarangan” (Selanjunya ditulis KSTP), karya penulis Korea, Shin Kyong Suk.

Korea3

Sumber foto fb Roni Ronidin

Mitos di dalam cerita ini bukan mitos seperti yang diungkapkan di atas. Akan tetapi mitos yang ada dalam dunia yang diciptakan oleh pengarang. Cerita ini berkisah tentang kehilangan yang akan menjadi indah ketika diceritakan. Itulah kesan pertama ketika membaca cerita pendek Shin Kyong Suk ini. KSTP mengungkapkan luka batin seorang penulis karena kehilangan adiknya. Pengarang cerpen ini, dari awal sudah menyampaikan kisahnya dalam satu kalimat simbolik. ”Si peminum susu itu kini sudah pergi namun pengantar susu masih mengirim susunya.” Cara itu tentu saja menggambarkan kecerdasan seorang penulis membawa pembaca untuk masuk ke dalam dunia yang diciptakannya.

Kalimat singkat itu memberikan gambaran tentang keseluruhan cerita yang berkisah tentang kehilangan tokoh utama dan kenangan-kenangannya terhadap seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. “Si peminum susu” merupakan simbol dari seseorang yang erat hubungannya dengan tokoh utama, dua kata “sudah pergi” menyatakan bahwa seseorang itu sudah mati atau tidak ada dan “pengantar susu masih mengirimi susunya”, sebagai simbol bahwa kenangan tentang seseorang itu masih sering menjumpai tokoh utama.

Latar sosial dalam cerita ini berkisah tentang masyarakat kelas menengah Korea. Hal itu tercermin dalam latar tempat, dimana tokoh utama tinggal di apartemen sederhana yang dia sewa untuk tempat tinggalnya. Latar waktu, walaupun tidak di sebutkan secara jelas, tentu saja tidak mengurangi keindahan kisah ini, karena dia memang tidak berkisah tentang sejarah yang memang harus memiliki latar waktu yang jelas. Selain latar yang mendukung sekaligus membangun cerita, penokohan juga memperkuat kisah tentang kenangan itu sendiri. Tokoh utama yang merupakan seorang penulis, menjadikan perasaannya sangat sensitif. Sehingga dia dengan fasih mengakui bahwa aktivitasnya menulis pun adalah untuk manahan kesedihan karena kehilangan. Cerita itu terasa semakin meyakinkan ketika diceritakan dalam sudut pandang orang pertama, sehingga pembaca seperti mendengarkan sebuah kesaksian pilu dari tokoh utama. Sementara itu alur cerita yang zig-zag (maju-mundur-maju) membuat kisah ini menjadi tidak monoton sehingga pembaca terbawa kepada tema perasaan pedihnya kehilangan sebagaimana kepedihan yang dirasakan oleh tokoh utama.

Korea5

Sumber foto fb Elly Delfia

Berhubungan dengan mitos di dalam cerita, barangkali penulis tidak ingin mengukuhkan mitos di dalam kehidupan modern. Akan tetapi dia menjadi salah satu pemanis di dalam cerita selain luka-luka yang dikisahkan. Hal ini menunjukkan betapa pengarang -sekalipun hidup di dunia modern- tidak bisa melepaskan dirinya dari mitos-mitos. Hal itu barangkali karena begitu banyaknya mitos yang diciptakan manusia, sejak zaman tradisional hingga zaman modern. Kecurigaan ini semakin beralasan ketika dihubungkan dengan paragraph pertama tulisan ini. Mitos akan selalu diproduksi untuk menjadi bagian bagi kehidupan manusia. Baik untuk tujuan materi ataupun untuk tujuan mengukuhkan sesuatu seeperti di dalam cerita ini, mitos digunakan untuk mengukuhkan betapa pedihnya luka dan betapa indah kisah luka itu ketika diceritakan.

Dari uraian singkat di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa masyarakat tetap memiliki sisi tradisional yang melekat dalam kehidupan mereka. Salah satu sisi tradisional itu adalah kepercayaan tentang perlunya mitos untuk mengukuhkan sesuatu kepentingan tertentu. Baik itu materi ataupun hal lain yang dirasa perlu oleh manusia.

Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 2)

Standard
Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 2)

gibran-kahlil-gibran

Bila kita lihat karya-karya Kahlil Gibran memang akan memunculkan kesan ambigu terhadap keyakinan Gibran. Dalam sebuah tulisannya Gibran pernah mengungkapkan bahwa dia menempatkan Yesus di sebelah hatinya, dan Muhammad pada belahan yang lainnya. Apa yang diungkapkan Gibran itu merupakan efek dari proses kreatifnya. Gibran membaca banyak buku karya Nietzsche, Derrida, Sartre, Plato dan tokoh pemikir dunia lainnya, bahkan dia mempelajari Bibel, Kitab suci Al-Quran dan hadist-hadist Nabi Muhammad. Dari pembacaannya inilah kemudian muncul kekagumannya pada dua tokoh agama besar saat ini, Nasrani dan Islam. Maka tak heran kalau kemudian dia menyandingkan Yesus dan Muhammad di hatinya. Hal ini bukan karena dia mencampur adukkan agama, tapi karena keintelektualannya mengambil manfaat dari apa yang dipelajarinya.

Kaitan apa yang disampaikan di atas dengan corak religiusitas lintas agama dalam karya Kahlil Gibran cukup jelas. Gibran menempatkan Tuhan semua manusia sebagai poros aktifitasnya. Kesan religiusitas lintas agama ini terlihat jelas dalam karya-karya Gibran. Ketika kita baca karyanya, maka tak heran bila Kahlil Gibran mengajarkan pada manusia untuk melihat keindahan di dalam ajaran Tuhan. Seperti dalam karyanya yang berjudul Trilogi Hikmah Abadi; Sang Nabi-Taman Sang Nabi-Suara Sang Guru.

“Jadikanlah keindahan sebagai agamamu dan hormatilah ia seperti memuja Tuhanmu, sebab keindahan adalah karya agung Tuhan. Percayalah kepada keindahan ilahiyah sebab itulah pujian awal terhadap kehidupan dan sumber dahaga kebahagiaan. (Gibran, 1999: 57)”

Dalam karyanya ini Kahlil Gibran mengakui sejujurnya bahwa keindahan adalah karya Tuhan. Gibran, sebagaimana yang kita tulis dari awal menempatkan Tuhan sebagai poros kehidupan. Termasuk dalam pemikirannya ini, bahwa semua yang ada di alam bertumpu pada Tuhan. Semua ada karena Tuhan menginginkannya ada.

Selain itu Kahlil Gibran berpikiran bahwa untuk menemukan Tuhan manusia juga harus melihat ciptaan-ciptaan Tuhan. Dalam ciptaan Tuhan itu akan ditemukan kemaha kuasaan Tuhan. Dalam perenungan terhadap alam maka akan bermuara pada kebesaran Tuhan.

“Jika kalian ingin menyaksikan Tuhan maka jangan pernah mengatakan atau menilai sesuatu, sebelum kalian melihat ke sekitarmu karena di situ kalian akan menyaksikan Tuhan sedang bermain bersama anak-anak kalian. Dan kalian lihatlah juga ke angkasa raya, karena Ia bersemayam di antara mega-mega, mengulurkan tangan-Nya dalam kilat yang membahana, lalu turun bersama hujan yang membasuh wajah dunia. Kalian akan melihat-Nya dalam setiap senyuman bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan-Nya menyalamimu dari puncak pohon cemara. (Gibran, 1999:87)”

Selain terhadap alam, Gibran juga menyihir manusia dengan cinta untuk melihat keagungan Tuhan. Dengan cinta kehidupan akan damai, terbebas dari keangkaran murkaan. Maka manusia yang bebas dari angkara murkalah yang bisa menemukan Tuhan. Karena cinta manusia akan meninggalkan apa saja, karena cinta manusia akan manghadapi segala tantangan yang menghalangi menuju yang dicintainya.

“Cinta membimbingku mendekati- Mu, namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cintaku, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengar Mu, kekasihku, aku mendnegar panggilanMu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayapMu.(Gibran, 1999:72)”

Dari pembicaraan singkat ini, tentu belum akan memuaskan keingin tahuan kita terhadap warna religius dalam karya Kahlil Gibran. Memang membicarakan Kahlil Gibran tidak cukup waktu satu jam atau dua jam, tidak akan cukup empat lembar atau lima lembar kertas kwarto, tapi membicarakan Kahlil Gibran dan karyanya mungkin akan menghabiskan berlipat-lipat waktu dari umurnya dan berlipat-lipat lebih banyak kertas dari karya-karyanya.

Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

Standard
Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

khalil_gibran_tertop10-blogspot-com

Kahlil Gibran merupakan lambang kesuksesan kaum imigran timur di dunia barat. Keharuman nama Kahlil Gibran hampir semua bangsa menciumnya. Termasuk di Indonesia, Gibran merupakan nama seniman yang melekat di hati anak-anak muda, diketahui oleh orang-orang tua, diakui keindahan karyanya oleh kritikus-kritikus sastra. Karya-karya Gibran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memenuhi rak buku sastra pada toko-toko buku terkenal di negeri kita.

Ghougassian (dalam Munir, 2005:48) menjelaskan tentang riwayat hidup Kahlil Gibran. Dia memiliki nama lengkap Gibran Kahlil Gibran. Nama ini berasal dari nama arabnya Jubran Kahlil Jubran. Karena orang Amerika sulit mengucapkannya maka nama itu menjadi Kahlil Gibran. Kahlil Gibran lahir di kota Beshari, kota yang terletak di punggung gunung Lebanon pada tanggal 6 Januari 1883. Secara geografis berada dibagian utara Lebanon, tidak jauh dari hutan cemara pada zaman Alkitab, diketinggian lebih dari 5000 kaki, menghadap laut Mediterranian. Kota ini sarat dengan kebun anggur dan apel yang indah, buah-buahan yang besar, air terjun Kadisah dengan jurang yang dalam. Bila kita membaca karya-karya Gibran maka keindahan alam ini seringkali menjadi latar ceritanya.

Gibran berasal dari keluarga yang sederhana. Anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir dari ibu Kamila Rahme putri seorang pendeta Kristen sekte Maronite. Ayahnya Khalil bin Gibran seorang penggembala yang tidak ingin merubah nasibnya menjadi petani. Menurut keterangan Bushrui dan Joe Jenkins seperti yang ditulis Miftahul Munir dalam bukunya Filsafat Kahlil Gibran, Humanisme Teistik Kahlil Gibran sewaktu kecil mempunyai kesenanagan yang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Gibran kecil lebih suka menyendiri, merenung dan tidak banyak tertawa. Ia lebih sering mencari kesenangan dengan menikmati keindahan alam, keindahan alam ini dihayatinya dengan penuh arti dalam kekaguman.

Tahun 1895, tepatnya tanggal 25 Juni, keluarga Gibran pindah ke Amerika dan menetap di Boston dengan hidup yang berat. Di rantau yang jauh dari negerinya inilah Gibran memulai kariernya sebagai seniman yang sukses hingga dikenang bertahun-tahun, sampai saat ini.

Bila kita kembali pada pokok pembicaraan kita tentang nuansa religiusitas dalam karya Kahlil Gibran banyak orang yang masih meragukan apa sebenarnya agama yang dianut Kahlil Gibran. Pada suatu waktu, di sebuah Fakultas Sastra seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kahlil Gibran ini agamanya apa?”. Mendengar pertanyaan itu entah bagaimana saya menjawabnya. Saya tahu kawan itu banyak membaca karya-karya Kahlil Gibran, dan karena banyak membaca karya Kahlil Gibran itulah muncul pertanyaan seperti itu.