Tag Archives: Kritik Sastra

Kaba, Karya Fiksi Minangkabau (Bagian 2)

Standard

Rumah Gadang

Karena sifat kabar itu yang diceritakan dari mulut kemulut, diceritakan dari satu tempat ke tempat lain, bahkan tidak hanya di daerah kejadian. Maka kabar yang disampaikan itu menjadi sebuah cara khas menyampaikan berita bagi masyarakat Minangkabau. Lalu kapan kaba dinyatakan sebagai fiksi? Mungkin ketika kabar yang diceritakan itu telah dituliskan menjadi buku saat tradisi tulis sudah berkembang di Minangkabau (umurnya lebih muda dari umur tradisi bakaba itu sendiri). Kabar berita yang dituliskan itu menjadi fiksi ketika para akademisi mulai menerjemahkan tradisi lisan masyarakat Minangkabau itu dengan ilmu-ilmu yang mereka dapat dari luar kebudayaan Minangkabau (teori barat). Ketika akademisi barat mengemukakan sebutan novel, roman untuk cerita-cerita rekaan dan menggolongkannya ke dalam fiksi, maka mereka mulai menyebut kabar yang disampaikan dengan cara bakaba dan kemudian dituliskan itu juga tergolong kepada fiksi.

Padahal keduanya sangat bertolak belakang sekali. Fiksi yang disebut akademisi itu adalah cerita rekaan atau khayalan, mungkin mereka menganggab sama dengan kaba karena mereka berprasangka bahwa kaba juga sebagai rekaan orang-orang Minang. Maka dengan alasan itu mereka golongkan kaba ke dalam fiksi. Padahal kaba bukanlah semata cerita rekaan tetapi dia diangkat dari fakta yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Minangkabau kemudian diceritakan dari mulut ke mulut dan suatu ketika dituliskan.

Lalu bagaimana solusi tentang persoalan ini? Karena ilmu-ilmu sastra atau teori sastra datangnya dari luar khasanah kebudayaan Minangkabau, maka tidak selalu harus diterapkan untuk menyelidiki secara akademis kaba masyarakat Minangkabau. Hal ini sama dengan orang-orang yang meneliti tradisi pasambahan dengan cara sama dengan menganalisi puisi. Karena dia menganggab kata-kata pasambahan sama dengan puisi. Padahal sesungguhnya hal itu adalah sebuah kekeliruan yang nyata.

Ke depan kalau memang penelitian-penelitian atau kajian terhadap seni tradisi Minangkabau akan dilanjutkan, saya rasa para akademisi yang akan meneliti dan mengkaji seni tradisi Minangkabau perlu memikirkan teori atau metode yang tepat untuk mengkaji kesenian tradisi Minangkabau. Tidak hebat seandainya peneliti-peneliti itu mencomot teori asing lalu berusaha bahkan terkesan memaksakan terori itu untuk meneliti kesenian tradisional Minangkabau.

Maka hal yang akan lebih baik untuk kita dan ilmu pengetahuan adalah mencarikan atau membuat cara tersendiri untuk menganalis atau meneliti seni tradisi Minangkabau ini. Kalau dikatakan membuat teori tersendiri yang kontekstual, boleh jadi. Atau kalau dikatakan membuat teori yang berakar dari khasanah kebudayaan tersendiri, mungkin tidak terlalu mengada-ada. (selesai)

Advertisements

Kaba Karya Fiksi Minangkabau (1)

Standard

Minangkabau

           Kaba adalah kesusastraan Minangkabau sejenis fiksi. Fiksi menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah cerita rekaan (roman, novel dll) yang tidak berdasarkan kenyataan atau rekaan belaka alias khayalan dari pengarangnya. Dari pernyataan di atas sepertinya membawa kembali ingatan kita ketika membuka lembaran awal cerita-cerita kaba yang telah dituliskan menjadi buku. Biasanya pada lembaran awal kaba itu dibubuhkan pernyataan penulis bahwa kaba itu adalah cerita yang sebenarnya yang pernah terjadi dalam masyarakat Minangkabau pada suatu waktu. Contoh kaba yang telah dicetak dan penulisnya membubuhkan pernyataan bahwa kaba itu adalah cerita sebenarnya adalah Kaba Siti Syamsiah karangan Sjamsudin Sutan Radjo Endah, Kubang Putih, terbitan Pustaka Indah Jln. Soekarno Hatta No. 7 Bukittinggi. Kaba ini selesai ditulis oleh Sjamsuddin Sutan Radjo Endah tanggal 15 Juli 1919.

Selain pada Kaba Siti Syamsiah, Samsuddin Sutan Radjo Endah juga membubuhkan tanda bahwa cerita itu adalah fakta pada karya-karyanya yang lain seperti Kaba Si Gadih Ranti dan Si Budjang Saman serta Kaba Si Reno Gadih. Sewaktu kecil saya sering mendengar cerita-cerita orang tua saya bahwa kaba itu adalah cerita yang terjadi di suatu daerah di Minangkabau. Seperti Lareh Simawang adalah cerita tentang Laras Simawang atau cerita lainnya. Orang tua saya mengatakan bahwa kaba tidak sama dengan cerita-cerita seperti Layar Terkembang atau Sengsara Membawa Nikmat. Tetapi karena orang tua saya itu tidak ahli sastra tentu pendapatnya itu tidak bisa dijadikan rujukan. Kemudian kaba sebagaimana arti lainnya yang bisa diartikan sebagai kabar berita (dari Bahasa Arab). Maka kaba itu juga merupakan sebuah berita tentang suatu kejadian dalam masyarakat Minangkabau yang disampaikan dengan cara berdendang, baik tanpa alat maupun dengan alat-alat sederhana seperti korek api yang dijentik-jentikkan dengan jari atau dengan cara memukulkan kotak korek api ke atas meja.

Saat membayangkan orang bakaba dugaan saya semakin kuat bahwa kaba bukanlah seperti fiksi dalam artian Bahasa Indonesia. Karena menurut cerita yang di dengar dari orang-orang tua juga, orang bakaba itu tidak selalu seperti yang ditampilkan orang di gedung pertunjukan. Bakaba bisa dilakukan di lepau-lepau sambil minum kopi atau di sawah saat bersama-sama menuai padi. Kaba waktu itu lebih kepada berita tentang suatu kejadian di daerah lain yang diceritakan oleh seseorang kepada orang-orang disekitarnya. Cuma saja agar cerita itu lebih menarik diceritakan dengan cara yang menarik seperti dengan musik atau bahkan dengan ekpresi yang sesuai dengan kondisi berita yang disampaikan. Kalau ceritanya sedih orang yang berkhabar akan berekspresi sedih dan kalau kabar itu adalah suatu yang kocak tukang kaba akan berlaku kocak. (Bersambung…)

Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra (Bagian 2)

Standard

Salah satu cerpen Joni Ariadinata yang akrab dengan kemiskinan adalah “Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri”. Sebenarnya cerita ini dibuka dengan hal-hal kecil yang menurut sebagian orang biasa-biasa saja. Tapi JA menggarabnya dengan logika cerita yang sesuai dengan keseharian yang dijumpainya: miskin, lugu, dan memiliki nuansa religiusitas yang kental. Penyakit Asma menjadi pembuka jalan cerita dalam cerpen yang dimuat di Koran Lampung Pos tahun 2002 ini. Seorang tokoh utama Rantawi menderita penyakit asma sudah berpuluh tahun. Rantawi yang sebelumnya hidup cukup mapan memiliki dua hektare sawah, setengah bahu perkebunan kopi, dan satu pabrik penggilingan padi. Tetapi semua kekayaannya itu telah lepas satu persatu dari tangannya untuk biaya pengobatan. Namun semua itu sia-sia saja, tanpa hasil yang memuaskan untuk kesehatan Rantawi.

Walau sudah jatuh bangkrut, Rantawi sebenarnya masih bisa tabah karena dia memiliki keimanan yang cukup kuat. Dia menganggab mungkin penyakit itu sebuah ujian untuknya. Tapi suatu ketika keimanannya itu runtuh sehingga Rantawi ingin bunuh diri yang merupakan perbuatan yang dilarang agama. Peristiwa itu berhubungan dengan cinta dan perasaan. Sebagai seorang ayah, Rantawi sangat mencintai dan menyayangi anak gadisnya Ratri. Sebagai gadis dewasa Ratri sudah waktunya menikah. Dia sudah punya calon suami Basuki, anak Mayor Sulaiman.

Namun rencana pernikahan itu kandas dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh Ratri dan Rantawi. Mayor Sulaiman menolak Ratri karena bapaknya berpenyakit asma, yang menurut keluarga Mayor Sulaiman adalah penyakit keturunan. Keluarga Mayor itu tidak mau masa depan Basuki hancur karena penyakit keturunan itu. Kandasnya rencana perkawinan itu membuat Ratri frustasi. Anak gadis Rantawi sudah beberapa hari mengurung diri di dalam kamar, dia beranggapan bahwa tidak akan ada lagi laki-laki yang mau menikah dengannya. Hal itu membuat Rantawi terpukul dan menyalahkan Tuhan, lalu dia minta izin untuk bunuh diri dengan meminum racun babi.

Detik-detik sebelum Rantawi bunuh diri, asmanya kumat. Perasaannya dia telah meminum secangkir kopi yang bercampur racun babi. Dia merasa sudah mati, padahal dia pinsan selama dua jam lalu dibawa istrinya ke rumah sakit. Setelah sadar, Rantawi merasa dadanya lapang, dokter mengatakan bahwa penyakitnya akan sembuh. Rantawi menyadari bahwa kehendak Tuhan itu bisa menciptakan apa saja, termasuk menyembuhkan penyakitnya saat dia sudah putus asa. Cerita seharusnya berakhir bahagia karena keluarga Mayor Sulaiman mau menerima anak Rantawi dan melanjutkan untuk menikahkan anak mereka.

Tapi cerita lain mengalir seiring keluguan orang-orang kampung seperti Rantawi. Rantawi menceritakan pengalamannya minum racun babi itu pada Wardoyo. Laki-laki itu menceritakan bahwa mertuanya sakit asma dan tidak sembuh-sembuh. Mengetahui Rantawi bisa sembuh dari penyakit asma, Wardoyo bertanya apa obat yang diminum Rantawi. Rantawi dengan kepolosan menceritakan bahwa racun babi telah menyembuhkan penyakitnya. Karena itu Wardoyo pun memberi mertuanya racun babi, tapi mertuanya itu mati setelah meminum racun babi.

Wardoyo ditangkap polisi. Setelah melalui pemeriksaan Wardoyo menyeret nama Rantawi ke kantor polisi. Walau berkata tegas bahwa dia tidak pernah berkomplot untuk membunuh Abah (mertua Wardoyo), tapi tetap saja Rantawi mendekam dipenjara. Sesalpun datang menghampiri Rantawi, lebih baik mati dari pada dipenjara dengan harga diri porak poranda.

Akhir cerita itu sangat religius. Walau tanpa tendensi apa-apa, tapi JA mengemukakan bahwa betapa Tuhan kini tengah memperhitungkan dosa-dosa Rantawi yang memilih untuk mati bunuh diri. Tuhan menjawab tantangan Rantawi ketika keimanannya yang kokoh rubuh dengan memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Pertanyaan terakhir yang mengakhiri cerpen “Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri” itu memuat pesan agama yang mendalam bagi sebuah karya. Bisa jadi pertanyaan terakhir itu tidak hanya untuk Rantawi tapi juga untuk banyak orang yang pernah berdosa.

Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra

Standard

Dalam sebuah acara pertemuan sastra di Jogjakarta pada tahun 2005, seorang laki-laki kurus agak tinggi hadir dengan pakaian sederhana, kaos oblong dan celana jeans dengan topi hitam yang agak lusuh bertengger di atas kepalanya. Perhatian saya tertuju pada laki-laki sederhana itu, kumis yang seperti tidak terurus tidak mengesankan dia sebagai laki-laki garang tapi seorang yang merakyat yang luar biasa. Diam-diam saya mendengar bisik-bisik beberapa kawan sesama penulis, “Mas Joni dah datang tuh!”, mendengar namanya saya teringat sebuah tulisan di Majalah Annida edisi ekslusif tentang proses kreatif lelaki pengarang itu.

Awalnya dia tidak kuliah diinstitusi sastra, tapi hanya seorang pemuda tamatan SMA yang mencoba mengadu nasib ke kota. Bekerja serabutan dari kuli bangunan sampai menjadi pengamen ke tempat-tempat kos mahasiswa. Perkenalan lelaki itu dengan dunia kepenulisan karena dia berteman dengan seorang penulis yang mendorongnya untuk menjadi penulis. Belajar otodidak dengan ketabahan yang kuat, akhirnya tahun 1993 cerpen pertamanya dimuat di Surabaya Post, setelah empat ratusan lebih karyanya dikirimkan ke beberapa media. Setelah di Surabaya Post, cerpennya juga keluar di Kompas dan terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas, setelah itu terbukalah jalan lempang kepenulisannya.

Semenjak memulai karier sebagai penulis orang-orang mengenalnya dengan nama Joni Ariadinata. Dia dilahirkan di Majapahit, Majalengka pada tahun 1966. Penulis ini telah menerbitkan kumpulan cerpen diantaranya Kali Mati (1999), Kastil Angin Menderu (2000), Air Kaldera (2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004). Pada tahun 1994 ia meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas atas karyanya yang berjudul “Lampor”. Pada tahun 1997 Joni Aridinata meraih Penghargaan Cerpen Terbaik Nasional BSMI atas karyanya “Keluarga Mudrika”. Pada tahun 2000 dia mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia dan Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia. Pada tahun 2004 ia menjadi redaktur di majalah sastra Horison. Joni menerima Anugerah Pena 2005 dari Forum Lingkar Pena (FLP) atas kumpulan cerpennya Malaikat Tak Datang Malam Hari.

Joni Ariadinata (JA) dalam proses kepengarangannya memang dikenal sebagai penulis yang bereksperimental mencari bentuk kepenulisannya sendiri. Sebagai orang yang belajar menulis secara otodidak, JA banyak menemukan corak baru dalam karya-karyanya. S Prasetyo Utomo dalam tulisannya yang berjudul “Generasi Cerpenenis Pasca-Seno Gumira Ajidarma” yang dimuat oleh Koran Republika Ahad, 13 Januari 2002, menyebut nama JA sebagai salah satu penulis yang memiliki corak kepengarangan khas. JA melakukan pembaruan dalam dunia cerpen. Dia melakukan dengan mereduksi bahasa, hingga menampakkan citra puisi dalam narasi-narasinya. Terkesan pada cerpen-cerpen Joni Ariadinata terpilih diksinya, pekat, padat, dan bernas. Ia bisa menghadirkan borok, nanah kehidupan – realitas yang sangat runyam – ke dalam teks sastra yang penuh simbol, tanda, dan pemaknaan. Dengan mereduksi bahasa, ia memang berhasil menghilangkan beban sosiologis pada cerpen-cerpennya, menghindar untuk menjadi nyinyir dan bertendens. Tapi hal yang perlu dijaga padanya adalah agar tak terjerat kredo bahasanya sendiri seperti Sutardji Calzoum Bachri yang berpulang kembali ke pengucapan konvensional. (Bersambung…)

Rumi dan Syair-Syair Cinta

Standard
Rumi dan Syair-Syair Cinta

Rumi

Sumber foto: http://upload.wikimedia.org

Siapa yang tak kenal dengan Jalaluddin Rumi. Rumi, begitu orang biasa menyebut-nyebut namanya adalah penyair yang menjadi syair itu sendiri. Ia mengalir bersama syair-syair yang dia tuliskan, dia hidup di antara bait demi bait syairnya walau dia sudah meninggal sejak 5 Jumadil Akhir 672 H yang lalu. Rumi adalah sosok sukses yang kuat secara pribadi, orang yang cerdas dan dinamis, orang yang berhasil menyelami filsafat, berenang menyelami seluk lekuk di dalamnya dan ia berhasil keluar dengan selamat.

Rumi adalah pengarang sukses yang menulis karya sastra, ia hidup dengan karyanya dan ia memiliki karya sastra itu. Ini tentu saja berbeda dengan kritik Robert Escarpit, seorang kritikus sastra dari Prancis yang mengatakan bahwa sekarang ini masyarakat membuat sastra, pada zaman dahulu masyarakat memiliki sastra itu.

Pernyataan Escarpit itu akhirnya menyadarkan kita bahwa sebenarnya memang seperti itulah yang terjadi di dalam dunia sastra kita akhir-akhir ini. Gejala ini dapat dilihat bagaimana setiap minggu koran-koran di daerah dan nasional memanjakan si pembuat karya sastra (cerpen, puisi, cerbung). Media massa menyediakan ruang satu halaman penuh untuk memuat karya-karya yang ditulis oleh para pembuat karya sastra. Entah itu bercerita tentang cinta, tentang kehidupan, tentang kemanusiaan dan lain sebagainya. Bahkan para pembuat karya sastra juga bercerita tentang kemiskinan dan ketidakadilan, walau kadang mereka juga bagian dari orang-orang yang sebenarnya tidak peduli dengan kemiskinan rakyat dan ketidakadilan yang menimpa mereka.

Begitulah saat ini para pembuat karya sastra membuat karya sastra, tanpa peduli apakah mereka sendiri berhasil memiliki karya itu atau tidak. Mereka terus berkarya tanpa harus memikirkan untuk siapa karya itu, yang penting media memuatnya dan suatu saat kalau perlu penerbit menyulapnya menjadi kepingan buku dengan imbalan yang layak tentunya.

Hal lain yang lebih luas adalah siapapun bisa membuat karya sastra, pelajar, mahasiswa, seniman itu sendiri, politisi bahkan artis, mereka bisa membuat karya sastra. Pokoknya siapa yang ingin menunggangi karya sastra untuk tujuan masing-masing, bisa membuat karya sastra. Seandainya pun anda tidak bisa menulis atau malas menulis sekalipun, anda masih bisa membuat karya sastra, karena saat ini, di dunia yang serba tak jelas ini anda bisa menyewa ghostwriter untuk menjadikan anda si pembuat karya sastra. Tapi ingat, Escarpit menegaskan hanya sebatas membuat karya sastra, tidak memilikinya.

Sementara itu mari dilihat pada masa lampau, lihatlah bagaimana masyarakat hidup dengan karya sastra itu sendiri. Bagaimana tukang kaba di tanah Minang menjadikan karya sastra adalah kisah hidup dari orang-orang di sekitarnya, ia menjadikan karya sastra adalah bagian tak terpisahkan dari rakyatnya. Ia menceritakan bagaimana rakyat hidup dan bagaimana cara menghadapi hidup. Suatu hal yang penting adalah para tukang kaba itu tidak mementingkan apakah mereka tahu atau tidak tahu dengan siapa pembuat cerita-cerita itu. Hal itu tidak menjadi persoalan, karena bagi mereka yang terpenting adalah masyarakat hidup dengan karya sastra itu, tertawa bersama, bahkan menangis bersama saat mendengarkan karya-karya itu.

Pada bagian lain lihat juga bagaimana pepatah-petitih hidup di tengah-tengah masyarakat. Ia menyertai setiap gerak sosial masyarakat. Ia hadir pada berbagai kegiatan masyarakat dan harus hadir dalam berbagai upacara adat. Itulah karya sastra yang dimiliki oleh masyarakat lampau, ia hadir di tengah-tengah masyarakat yang memilikinya. Sekali lagi tanpa harus memusingkan siapa pengarangnya, siapa penciptanya siapa yang memegang hak ciptanya, itu tidak penting yang penting adalah dia hadir di tengah-tengah masyarakat. Selain kaba, pepatah-petitih, jenis sastra lama yang hidup di tengah-tengah masyarakat adalah berbagai jenis mantra, ia hidup pada bibir-bibir pawang dan dipercayai oleh masyarakatnya.

Tapi Rumi, adalah kisah lain dari penciptaan karya sastra. Rumi menciptakan syair-syairnya, ia menghidupi karyanya karena dia memakainya untuk menyatakan berbagai perasaan; cinta, kesedihan dan tentu juga ungkapan rasa gembira. Syair-syair Rumi kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala peruntukannya. Walaupun tidak sehebat sastra lama yang benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakatnya, setidaknya karya Rumi tidak sekadar dibuat, minimal dia dimiliki oleh masyarakatnya.

Lihatlah beberapa petikan syair-syair Rumi berikut ini:

…Ketika dalam dada

Nyala cinta dihidupkan

Apa pun miliknya, kecuali cinta

Lebur lenyap dihanguskan

Semua saja, otak cemerlang

Pengetahuan, buku-buku yang pernah kubaca,

Kepenyairan yang kujelang

Dan segala milik pujangga; lenyap musnah

(Ketika dalam Dadaku; Rumi)

Syair Rumi ini kemudian menjadi tarian, menjadi nyanyian karena dia membuatnya benar-benar karena dia merasakan. Ia menuliskan syair-syair cinta itu melalui pemahaman yang utuh terhadap filsafat cinta. Dia sadar cinta adalah milik Sang Penguasa, oleh karena itu ia akan hidup selama Sang Penguasa masih ada dalam hati manusia.

Lihat pula bait-bait lain dari syair Rumi ini:

Siapa pula aku, apa gerangan cinta dan benciku?

Kaulah yang pertama, dan yang terakhir jugalah kau nanti

Jadilah penghabisanku lebih bermakna dari pertamaku

Apabila kau sembunyi, akulah kafir

Apabila kau mewujud, aku si setia

Aku tak memiliki apapun selain yang telah kau berikan padaku

Apa pula yang kaucari di balik dada dan lengan bajuku

(Hanya Kau; Rumi)

Lalu pertanyaannya adalah mengapa saat ini masyarakat hanya sekadar membuat karya sastra? Sementara pada zaman dahulu masyarakat memiliki karya sastra? Atau pada garis pertemuannya mengapa Jalaluddin Rumi berhasil mencipatakan karya sastra dan kemudian masyarakat memilikinya? Jawabannya barangkali apa yang disampaikan Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku “Sosiologi Sastra” yang ditulis Robert Escarpit bahwa saat ini adanya sederet kegiatan dan lembaga yang berada antara benak orang yang menulis dan pikiran orang yang membaca tulisannya. Sastra bukan lagi sesuatu yang dipikirkan bagaimana harusnya ia, tetapi sastra menjadi benda budaya yang dihasilkan masyarakat sebagai bagian dari kegiatan indistri modern, yang tujuannya tak jauh dari kepentingan ekonomi, seberapa besar karya itu bisa menghasilkan uang bagi penciptanya. Lebih jauh seberapa besar peluang karya itu hadir dalam berbagai media, apakah media massa, buku atau film sekalipun.

Hal itu tentu saja berbeda dengan sastra pada zaman dahulu, dimana masyarakat tidak memikirkan dimana akan diterbitkan karya itu, bagi mereka tidak terpikirkan sejauh mana akan mendistribusikan karya sastra dan bahkan tidak memikirkan siapa yang akan membacanya. Seperti Rumi dia mencipta karya sastra dia miliki sastra itu dengan segenap hatinya, masyarakat turut memilikinya dan itu tanpa memikirkan apakah kita sekian generasi berikutnya akan membacanya atau bahkan pasti tidak dipikirkan Rumi bagaimana dunia industri mengambil manfaat ekonomi dari karya-karyanya.

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Dimuat di Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili Edisi 6 Th.XX 24 Januari 2013

 

ANALISIS CERPEN “ANAK CINDAKU DITIKAM RINDU” KARYA AZWAR SUTAN MALAKA

Standard
ANALISIS CERPEN “ANAK CINDAKU DITIKAM RINDU”  KARYA AZWAR SUTAN MALAKA

coverLuka-depan“Anak Cindaku Ditikam Rindu” adalah sebuah cerpen yang ditulis Azwar Sutan Malaka, pernah dimuat di Harian Singgalang, Padang, tahun 2014. Selain itu cerpen ini juga termuat dalam antologi Cerpen Jejak Luka dan Kisah Lainnya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang anak Minang bernama Alif, yang merantau ke Jakarta. Ia selalu merindukan pujaan hatinya Narisha seorang gadis yang ia cintai sejak kelas empat SD di kampung halamannya. Saat di perantauan ia selalu berharap dapat menikahi gadis dambaan hatinya tersebut. Sepulangnya dari perantauan ia bermaksud untuk meminang gadis pujaannya kepada kedua orang tua gadis itu. Namun ternyata pinangannya itu mendapat penolakan dari keluarga dan orang tua Narisha.

Penolakan pinangan ini membuat Alif bingung, karena menurutnya penolakan ini adalah penolakan yang tidak beralasan. Penolakan ini bukan karena ia seorang perantau mentah yang belum jadi, bukan pula karena mereka khawatir anak perempuan mereka akan menderita karena ia lelaki miskin, bukan pula karena tidak bisa pulang setiap lebaran apabila ia memngajak Narisha merantau. Akan tetapi menurutnya penolakan ini hanya karena sebuah gosip yang beredar di kampung itu bahwa Ia, mewarisi darah Cindaku.

Di kampung halamannya tersebut memang beredar sebuah mitos mengenai Cindaku. Cindaku ini adalah makhluk jadi-jadian, reikarnasi dari manusia sakti. Menurut mitos tersebut, orang sakti itu tidak dapat diterima oleh langit dan tidak dapat dilepaskan dari bumi. Hingga apabila dia mati, maka ia akan menjadi makhluk jadi-jadian sesuai dengan tingkat ilmu kesaktiannya. Bisa saja menjadi harimau, babi hutan, atau menjadi tikus sawah.

Penolakan yang selama ini difikir Alif adalah sebuah penolakan karena ia anak Cindaku, ternyata bukan karena hal seperti itu. Setelah ia bertanya kepada Etek Aminah, ibu dari Narisha gadis yang sangat dicintainya itu sampai sedikit mendesaknya, ternyata penolakan itu karena ia adalah saudara sedarah dengan gadis pujaanya. Darah yang mengalir di dalam nadi Narisha sama dengan darah yang mengalir pada dirinya.

“Anak Cindaku Ditikam Rindu”, mempunyai ide yang sudah biasa dibuat dalam cerita lain, yaitu tentang penolakan. Berangkat dari ide ini, tema yang dikisahkan adalah penolakan atas pinangan Alif untuk Narisha (Anak Tek Aminah) yang dipandang dari dua sisi berbeda, yang pertama karena mitos darah Cindaku yang diwarisi Alif dan yang kedua karena mereka sedarah. Alur yang dipakai penulis dalam kisah ini adalah alur campuran. Konflik yang terjadi dalam cerita ini dimulai dari dikisahkannya seorang laki-laki yang bernama Alif pulang dari perantauan demi meminang seorang gadis idaman hatinya. Konflik ini memuncak ketika Alif mempertanyakan alasan atas penolakan pinangannya kepada Tek Aminah. Yang pada akhirnya membuka luka lama Tek Aminah waktu ia muda dulu.

Tokoh dan Penokohan dalam cerpen “Anak Cindaku Ditika Rindu” ini adalah Alif (tokoh utama) yaitu seorang pemuda yang pulang merantau, yang merasa sakit dan sedih atas penolakan pinangannya kepada pujaan hatinya oleh kedua orang tua gadis. Junet (Tokoh pembantu pria) ialah Seorang teman sepermainan dan seperguruan tokoh utama, bersifat sabar dalam mendengarkan keluh kesah tokoh utama. Ayah Alif (Pemeran pembantu Pria) ia bersifat antagonis yaitu seorang dukun sakti yang memiliki ilmu hitam. Etek Aminah (Tokoh utama wanita) adalah seorang ibu yang menutupi aib masa lalunya sekian lama dan bersifat tegas dalam pengambilan keputusannya. Ibu Alif (pemeran pembantu wanita) ialah seorang ibu dari tokoh utama dan istri yang tegar dalam hidupnya. Narisha (pemeran pembantu wanita) ialah seorang gadis yang dicintai tokoh utama laki-laki yang bersifat sabar dalam penantiannya selama tokoh utama di perantauan.

Jika dilihat tentang mitos, mitos yang beredar di sebuah masyarakat dianggap sebuah kisah suci dan diyakini keberadaanya oleh komunitas penganutnya, namun belum tentu diyakini oleh komunitas lain yang memiliki mitologi yang berbeda (Wikipedia Bahasa Indonesia, 2014). Seperti kisah cerpen “Anak Cindaku Ditikam Rindu” yang kisahnya berlatar belakang mengenai mitos yang beredar di lingkungan kampung, dan oleh pengarang diangkat menjadi sebuah cerita menarik. Dalam cerpen hal ini disampaikan oleh tokoh pertama, dia menceritakan mengenai mitos cindaku.

“…Sejak kecil kami sudah dipaksa menerima bahwa cindaku itu adalah sesuatu yang ada dan mesti ada. Cindaku makhluk terkutuk yang tidak diterima langit dan juga tidak diikhlaskan bumi…” (Malaka,2014: 5).

Dari kisah mitos inilah diyakini oleh warga sekitar kampung bahwa ayah Alif memang bereinkarnasi menjadi cindaku karena ilmu hitam dan kejahatannya masa lalu. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat kecilnya Junet. “…Ayahmu dukun sakti, Alif. Dia lelaki yang bersekutu dengan Tuhan. Kau ingat bagaimana ia bisa membunuh orang hanya dengan jarum ditangannya, kau ingat bagaimana cerita-cerita di kampung bahwa ayahmu bisa saja menelanjangi pengantin dengan gasiang tangkuraknya?…” (Malaka, 2014: 6)

Dalam kisah ini perilaku masa lalu ayah Alif memang menjadi bom waktu yang sangat dahsyat bagi kehidupan Alif. Merupakan batu sandungan bagi kisah cinta anaknya yang mencintai gadis pujaannya yang sekian lama diidam-idamkan. Dambaan hati yang tidak dapat Alif nikahi karena mereka saudara sedarah. Hal ini disampaikan dalam cerpen ketika Alif menanyakan penyebab dari penolakan Etek Aminah kepada dirinya. “…Baiklah.., kalau ini yang membuat kau tenang aku akan katakan bahwa darah yang mengalir ditubuhmu sama dengan darah yang mengalir dalam urat nadi anakku…” (Malaka,2014: 12)

Dalam hal tersebut penulis mengangkat masalah agama ke dalam ceritanya. Dalam agama Islam diharamkan pernikahan sedarah atau pernikahan dengan saudara kandung karena mereka muhrim. Seperti dalam kisah “Anak Cindaku Ditikan Rindu” ini, bahwa tokoh utama dengan Narisha pujaan hatinya adalah saudara sedarah dengannya, oleh karena itu mereka tidak boleh menikah. Itulah sebab utama dari penolakan Tek Aminah terhadap pinangan Alif.

Seperti judulnya kerinduan yang mendalam pada tokoh utama ini justru menjadi tikaman yang menyakitkan. Karena kerinduannya dan harapannya tidak dapat terealisasikan. Harapannya tinggal harapan. Tokoh utama pada kisah ini menjadi orang yang tak berdaya karena mendapatkan kenyataan yang tak mungkin ia bersihkan, tak mungkin ia ubah. Kenyataan itu membuat hujaman yang menusuk di hatinya sehingga hanya pilu dan sedih yang ia rasa. Kenyataan yang tak dapat ia ganti bahwa ia tidak dapat menikahi pujaan hatinya karena pertalian darah.

(Ditulis Oleh: Ai Nurlaela, Annisa LS, Sohibah, Uty MK)

Sastra yang Mencerahkan

Standard
Sastra yang Mencerahkan

Sastra yang mencerahkan adalah karya sastra yang dihasilkan untuk kepentingan masyarakat, bukan karya yang dihasilkan untuk kepentingan pasar. Dengan demikian dalam menulis karya yang mencerahkan kadang banyak tantangan yang harus dilalui. Bahkan barangkali seseorang harus mengorbankan sesuatu yang besar dalam hidupnya. Inilah yang telah dilakukan oleh Ferit Orhan Pamuk, pengarang yang lahir di Istanbul pada tanggal 7 Juni tahun 1952. Orhan Pamuk memilih menjadi penulis sebagai upaya mencerahkan manusia dengan mengorbankan kuliah yang telah di jalaninya selama 3 tahun di Istambul Technical University.

Pengorbanan Orhan Pamuk itu tidak sia-sia. Pada tahun 2006, dia memperoleh nobel dalam bidang sastra melalui novelnya My Name is Red atau yang dalam bahasa aslinya berjudul Benim Adim Kirmizi. Setelah melalui proses kreativitas yang panjang Orhan Pamuk akhirnya meraih salah satu penghargaan istimewa di dunia dalam bidang sastra. Novel yang berlatar belakang zaman Sultan Murat III di masa Dinasti Utsmaniyah ini mencampurkan misteri yang penuh tanda tanya dengan romantisme cinta yang filosofis.

Sebelum memperoleh nobel sastra, melalui karyanya itu Orhan Pamuk telah memperoleh penghargaan IMPAC Dublin Award pada tahun 2003 dari Irlandia, Prix du Meilleur Livre Etranger pada tahun 2002 dari Prancis dan Premio Grinzane Cavour pada tahun 2002 dari Italia. Sementara itu untuk karyanya yang lain Orhan Pamuk telah memperoleh penghargaan Million Press Novel Contest pada tahun 1979 atas novel Karanlik ve Isik (Darkness and Light) dan pada tahun 1979 novel ini juga mendapat penghargaan Orhan Kemal Novel Prize. Novel keduanya Sessiz Ev (The Silent House) juga memperoleh penghargaan Prix de la Decouverte Europeenne pada tahun 1991 setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Penghargaan ketiga yang diperoleh Orhan Pamuk adalah Independent Award for Foreign Fiction atas karyanya Beyaz Kale (The White Castle) pada tahun 1991. Penghargaan selanjutnya adalah German Book Trade untuk karya Europe and Islamic Turkey Fin a Place for One Another pada tahun 2005.

Penghargaan-penghargaan itu pantas diperoleh oleh Orhan Pamuk apalagi terhadap novel My Name is Red ini karena novel yang penuh misteri ini dianggap banyak orang sebagai puncak kecemerlangannya. Sungguh pun demikian kegetiran tetap saja mengiringi penghargaan yang dianugerahkan terhadap Orhan Pamuk ini. Walau bagaimanapun Orhan Pamuk tidak mendapatkan tempat yang baik di hati sebagian orang muslim, karena dia dikenal sebagai sastrawan yang pertama kali membela Salman Rushdie ketika Ayat-Ayat Setannya dinilai masyarakat muslim menghina Nabi Muhammad SAW. Orhan Pamuk adalah orang yang menentang fatwa mati bagi Salman Rushdie yang difatwakan oleh Ayatullah Khomaini, sang revormis muslim dari Negeri Iran.

Membedah lebih jauh novel Namaku Merah Kirmizi ini, dalam novel ini diceritakan tentang Merah Kirmizi yang hidup di Istambul saat simbol tonggak kejayaan Islam di daerah itu hampir musnah. Pada akhir abad ke 16 (sekitar tahun 1591) secara diam-diam Sultan menugaskan pembuatan sebuah buku untuk merayakan kejayaannya sebagai seorang Sultan. Seniman yang diberi tugas oleh Sultan itu terbunuh secara misterius. Untuk mengungkapkan kematian Sang Seniman, maka seseorang ditugaskan untuk menelusuri misteri pembunuhan itu. Tugas itu ternyata tidak sesederhana sebuah pembunuhan biasa karena pada akhirnya peristiwa itu menguak jejak benturan peradaban antara dua kebudayaan besar dunia yaitu kebudayaan Timur dan Barat (Turki dan Eropa atau bisa juga disebut sebagai perbenturan antara Islam dan Kristen).

My Name is RedKisah yang ditulis oleh Orhan Pamuk itu menjadikan My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi) sebagai sebuah cerita misteri pembunuhan yang menegangkan, kisah itu memberikan sebuah perenungan yang mendalam tentang cinta yang diramu dengan intrik seni dan politik. Cerita ini mengingatkan kita bahwa cinta politik tidak terlepas dari hal-hal purba yang dimiliki manusia, seperti cinta dan intrik-intrik untuk saling menjatuhkan. Novel ini terasa semakin renyah dibaca, karena Orhan Pamuk sang penulis juga membumbuinya dengan dongeng-dongeng klasik. Tentu saja saat kita membacanya tidak akan terasa membosankan walau sebenarnya novel ini merupakan novel yang cukup panjang, dan menghabiskan berlembar-lembar kertas, yang bila dipandangi saja akan membuat kepala berkerut.

Walau telah diungkapkan bahwa Orhan Pamuk mendapat reputasi buruk dari sebagian umat Islam terkait pembelaannya terhadap Ayat-Ayat Setan karya Salman Rusdie, sebagai sebuah karya My Name is Red bisa dilihat dengan melepaskan dari siapa yang melahirkannya, yang penting novel Namaku Merah Kirmizi ini merupakan karya yang indah untuk dinikmati oleh pembaca. Dari pada mempermasalahkan tentang Orhan Pamuk yang sering membuat resah umat Islam, lebih baik menikmati karyanya ini sebagai karya sastra. Bukankah kita sudah sangat hafal dengan filosofi: jangan melihat siapa orangnya, tapi lihatlah apa yang disampaikannya. Saya rasa hal itu juga berlaku untuk karya sastra dan Namaku Merah Kirmizi kita batasi hanya sebatas karya sastra yang penuh imaji, bukan teks pidato atau juga bukan salinan khotbah oleh ahli-ahli agama, apalagi sebuah fatwa.

Kalau kita lihat ke tanah air kita ini, sekarang realitasnya justru berbeda. Intrik politik, kepentingan ekonomi dan kepentingan peradaban, karya yang mencerahkan justru jarang muncul dalam karya sastra kita. Sastra kita kebanyakan bercerita tentang narasi diri seorang tokoh yang bermasalah dengan dirinya. Artinya pengarang hanya mengisahkan permasalahan-permasalahan individu seorang tokoh. Hal ini bole dikatakan sebagai upaya sastrawan menjadikan sastra sesuatu yang personal. Sedikit karya sastra kontemporer Indonesia yang berkisah tentang upaya menempatkan Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia. Pernyataan ini tentu tidak berlaku untuk semua sastra yang dihasilkan sastrawan Indonesia. Ingat, hanya sebagian besar saja.

Hal lain yang kita jumpai justru bagaimana intrik politik dan ekonomi justru mengiringi proses produksi karya sastra. Lihatlah bagaimana penulis-penulis (sastrawan) berkarya dengan intimidasi kepentingan ekonomi bahwa karya yang mereka tulis harus laku, bukan harus bermanfaat untuk masyarakat. Dalam hal ini kepentingan penerbit untuk menjual sebanyak-banyaknya lebih penting dari karya sastra itu sendiri. Bagi penerbit karya yang baik adalah karya yang laris di pasaran. Sementara itu saya sangat yakin bahwa karya yang laris itu belum tentu bermanfaat untuk masyarakatnya atau bahkan untuk peradaban.

Dengan mengurai karya Orhan Pamuk yang mengantarkannya meraih nobel sastra ini semoga kita bisa mengambil pelajaran yang baik. Menulislah untuk kepentingan peradaban, jangan menulis untuk kepentingan pasar. Bila yang kedua dilakukan, maka peradaban akan diuntungkan karena hal itu merupakan upaya pencerahan manusia, sementara itu jika menulis untuk kepentingan pasar, hal itu merupakan upaya memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Dengan demikian yang akan diuntungkan hanyalah para kapitalis yang memandang para penulis sebagai mesin uang mereka.

Dimuat di Kolom Bedah Sastra Majalah Sabili Edisi 21 Thn XIX, 19 Juli 2012

*Azwar Sutan Malaka adalah pembaca karya sastra, menyelesaikan pendidikan sarjananya dari Universitas Andalas Padang dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana dari Universitas Indonesia.