Tag Archives: Sastra dan Budaya

Pengarang dan Honorarium

Standard
Pengarang dan Honorarium

Pada zaman Orde Baru pernah terjadi boom ekonomi bagi pengarang, penulis, dan sastrawan Indonesia dalam Proyek Inpres.Waktu itu, pengarang diberi kebebasan menulis dan menerbitkannya. Maraklah penerbit di semua provinsi dan lahir para pengarang muda.

Read the rest of this entry

Advertisements

Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

Standard
Tuhan Kahlil Gibran (Bagian 1)

khalil_gibran_tertop10-blogspot-com

Kahlil Gibran merupakan lambang kesuksesan kaum imigran timur di dunia barat. Keharuman nama Kahlil Gibran hampir semua bangsa menciumnya. Termasuk di Indonesia, Gibran merupakan nama seniman yang melekat di hati anak-anak muda, diketahui oleh orang-orang tua, diakui keindahan karyanya oleh kritikus-kritikus sastra. Karya-karya Gibran yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memenuhi rak buku sastra pada toko-toko buku terkenal di negeri kita.

Ghougassian (dalam Munir, 2005:48) menjelaskan tentang riwayat hidup Kahlil Gibran. Dia memiliki nama lengkap Gibran Kahlil Gibran. Nama ini berasal dari nama arabnya Jubran Kahlil Jubran. Karena orang Amerika sulit mengucapkannya maka nama itu menjadi Kahlil Gibran. Kahlil Gibran lahir di kota Beshari, kota yang terletak di punggung gunung Lebanon pada tanggal 6 Januari 1883. Secara geografis berada dibagian utara Lebanon, tidak jauh dari hutan cemara pada zaman Alkitab, diketinggian lebih dari 5000 kaki, menghadap laut Mediterranian. Kota ini sarat dengan kebun anggur dan apel yang indah, buah-buahan yang besar, air terjun Kadisah dengan jurang yang dalam. Bila kita membaca karya-karya Gibran maka keindahan alam ini seringkali menjadi latar ceritanya.

Gibran berasal dari keluarga yang sederhana. Anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir dari ibu Kamila Rahme putri seorang pendeta Kristen sekte Maronite. Ayahnya Khalil bin Gibran seorang penggembala yang tidak ingin merubah nasibnya menjadi petani. Menurut keterangan Bushrui dan Joe Jenkins seperti yang ditulis Miftahul Munir dalam bukunya Filsafat Kahlil Gibran, Humanisme Teistik Kahlil Gibran sewaktu kecil mempunyai kesenanagan yang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Gibran kecil lebih suka menyendiri, merenung dan tidak banyak tertawa. Ia lebih sering mencari kesenangan dengan menikmati keindahan alam, keindahan alam ini dihayatinya dengan penuh arti dalam kekaguman.

Tahun 1895, tepatnya tanggal 25 Juni, keluarga Gibran pindah ke Amerika dan menetap di Boston dengan hidup yang berat. Di rantau yang jauh dari negerinya inilah Gibran memulai kariernya sebagai seniman yang sukses hingga dikenang bertahun-tahun, sampai saat ini.

Bila kita kembali pada pokok pembicaraan kita tentang nuansa religiusitas dalam karya Kahlil Gibran banyak orang yang masih meragukan apa sebenarnya agama yang dianut Kahlil Gibran. Pada suatu waktu, di sebuah Fakultas Sastra seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kahlil Gibran ini agamanya apa?”. Mendengar pertanyaan itu entah bagaimana saya menjawabnya. Saya tahu kawan itu banyak membaca karya-karya Kahlil Gibran, dan karena banyak membaca karya Kahlil Gibran itulah muncul pertanyaan seperti itu.

Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra (Bagian 2)

Standard

Salah satu cerpen Joni Ariadinata yang akrab dengan kemiskinan adalah “Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri”. Sebenarnya cerita ini dibuka dengan hal-hal kecil yang menurut sebagian orang biasa-biasa saja. Tapi JA menggarabnya dengan logika cerita yang sesuai dengan keseharian yang dijumpainya: miskin, lugu, dan memiliki nuansa religiusitas yang kental. Penyakit Asma menjadi pembuka jalan cerita dalam cerpen yang dimuat di Koran Lampung Pos tahun 2002 ini. Seorang tokoh utama Rantawi menderita penyakit asma sudah berpuluh tahun. Rantawi yang sebelumnya hidup cukup mapan memiliki dua hektare sawah, setengah bahu perkebunan kopi, dan satu pabrik penggilingan padi. Tetapi semua kekayaannya itu telah lepas satu persatu dari tangannya untuk biaya pengobatan. Namun semua itu sia-sia saja, tanpa hasil yang memuaskan untuk kesehatan Rantawi.

Walau sudah jatuh bangkrut, Rantawi sebenarnya masih bisa tabah karena dia memiliki keimanan yang cukup kuat. Dia menganggab mungkin penyakit itu sebuah ujian untuknya. Tapi suatu ketika keimanannya itu runtuh sehingga Rantawi ingin bunuh diri yang merupakan perbuatan yang dilarang agama. Peristiwa itu berhubungan dengan cinta dan perasaan. Sebagai seorang ayah, Rantawi sangat mencintai dan menyayangi anak gadisnya Ratri. Sebagai gadis dewasa Ratri sudah waktunya menikah. Dia sudah punya calon suami Basuki, anak Mayor Sulaiman.

Namun rencana pernikahan itu kandas dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh Ratri dan Rantawi. Mayor Sulaiman menolak Ratri karena bapaknya berpenyakit asma, yang menurut keluarga Mayor Sulaiman adalah penyakit keturunan. Keluarga Mayor itu tidak mau masa depan Basuki hancur karena penyakit keturunan itu. Kandasnya rencana perkawinan itu membuat Ratri frustasi. Anak gadis Rantawi sudah beberapa hari mengurung diri di dalam kamar, dia beranggapan bahwa tidak akan ada lagi laki-laki yang mau menikah dengannya. Hal itu membuat Rantawi terpukul dan menyalahkan Tuhan, lalu dia minta izin untuk bunuh diri dengan meminum racun babi.

Detik-detik sebelum Rantawi bunuh diri, asmanya kumat. Perasaannya dia telah meminum secangkir kopi yang bercampur racun babi. Dia merasa sudah mati, padahal dia pinsan selama dua jam lalu dibawa istrinya ke rumah sakit. Setelah sadar, Rantawi merasa dadanya lapang, dokter mengatakan bahwa penyakitnya akan sembuh. Rantawi menyadari bahwa kehendak Tuhan itu bisa menciptakan apa saja, termasuk menyembuhkan penyakitnya saat dia sudah putus asa. Cerita seharusnya berakhir bahagia karena keluarga Mayor Sulaiman mau menerima anak Rantawi dan melanjutkan untuk menikahkan anak mereka.

Tapi cerita lain mengalir seiring keluguan orang-orang kampung seperti Rantawi. Rantawi menceritakan pengalamannya minum racun babi itu pada Wardoyo. Laki-laki itu menceritakan bahwa mertuanya sakit asma dan tidak sembuh-sembuh. Mengetahui Rantawi bisa sembuh dari penyakit asma, Wardoyo bertanya apa obat yang diminum Rantawi. Rantawi dengan kepolosan menceritakan bahwa racun babi telah menyembuhkan penyakitnya. Karena itu Wardoyo pun memberi mertuanya racun babi, tapi mertuanya itu mati setelah meminum racun babi.

Wardoyo ditangkap polisi. Setelah melalui pemeriksaan Wardoyo menyeret nama Rantawi ke kantor polisi. Walau berkata tegas bahwa dia tidak pernah berkomplot untuk membunuh Abah (mertua Wardoyo), tapi tetap saja Rantawi mendekam dipenjara. Sesalpun datang menghampiri Rantawi, lebih baik mati dari pada dipenjara dengan harga diri porak poranda.

Akhir cerita itu sangat religius. Walau tanpa tendensi apa-apa, tapi JA mengemukakan bahwa betapa Tuhan kini tengah memperhitungkan dosa-dosa Rantawi yang memilih untuk mati bunuh diri. Tuhan menjawab tantangan Rantawi ketika keimanannya yang kokoh rubuh dengan memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Pertanyaan terakhir yang mengakhiri cerpen “Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri” itu memuat pesan agama yang mendalam bagi sebuah karya. Bisa jadi pertanyaan terakhir itu tidak hanya untuk Rantawi tapi juga untuk banyak orang yang pernah berdosa.

SUARA PEREMPUAN KORBAN PERANG DALAM SASTRA

Standard

Prajurit-Perempuan

Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I.
Ilustrasi: Micha Rainer Pali

Michael Rinaldo membuka sebuah tulisannya yang berjudul “Rilke dan Chairil” (Etos Kerja, Terjemah, Silang Tema) dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik, bisakah individu melepaskan diri dari masyarakat sekitarnya? Kemudian Michael sendiri melanjutkan dengan penjelasan bahwa dalam seni pertanyaan itu muncul sebagai diskusi klasik tentang bisa atau tidaknya sebuah karya seni berdiri sendiri sebagai institusi sendiri, dimana secara isi ia menolak dan melepaskan diri dari pembahasan tema sosial politik zamannya (121 Jurnal Kalam 2005 edisi 22).

Sementara itu Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra menyatakan bahwa teori tentang seni senantiasa tidak terlepas dari doktrin-doktrin yang melibatkan hubungan antara alam semesta dengan seniman serta alam dengan hasil karya seni. Misalnya, suatu karya seni yang mengandung keindahan dan bermutu bila karya tersebut mampu mencerminkan ajaran moral, sebagaimana teori Plato (2011: 63).

Saya tidak akan menyinggung lebih jauh tulisan Michael Rinaldo dan Albertine Minderop itu, tetapi pertanyaan Rinaldo itu setidaknya  telah menyeret saya untuk menegaskan bahwa salah satu hal yang tidak bisa dilupakan dari karya sastra adalah dia merupakan cerminan dari masyarakat dimana ia dilahirkan.

Sastra adalah suara-suara dari penulisnya, baik suara yang terkatakan ataupun suara-suara yang tidak terkatakan. Sastra tidak hanya suara penulis, tetapi dia adalah suara masyarakat, suara komunitas dan suara lingkungannya. Sastra juga suara- suara dari orang yang tak bersuara dan suara dari orang yang dilarang bersuara. Dengan demikian menulis karya sastra adalah proses memberikan suara kepada orang-orang yang tak bersuara.

Sementara itu apa yang dinyatakan Minderop bahwa karya sastra adalah cerminan dari perilaku yang baik dari penulisnya menjadi pembenaran bagi saya ketika meyakini bahwa sastra adalah risalah yang ditulis oleh seorang sastrawan untuk menyebarkan kebaikan di atas dunia. Dengan logika seperti di atas, maka benar saja bila seorang penyair, cerpenis dan novelis akan menjadi panutan bagi pembacanya. Karena itu, tidak heran kalau apa yang disampaikan oleh pengarang akan menjadi ikutan bagi pembacanya. Seperti sebuah seruan yang akan diikuti oleh banyak orang.

Seruan-seruan karya sastra tidak jarang menjadi senjata bagi sebagian pejuang untuk menyuarakan perjuangan mereka. Dengan melakukan perjuangan melalui karya-karyanya, sang pengarang berharap pembaca-pembacanya akan mengikuti jejak perjuangannya, tentu dengan berbagai cara sesuai dengan diri masing-masing pembaca itu. Pelajar dan mahasiswa yang membaca karya sastra dia akan berjuang dengan caranya, si petani juga akan berjuang dengan profesinya, guru, nelayan, tentara, politisi, ulama dan lain sebagainya, dengan membaca seruan sastra mereka akan turut berjuang dengan cara mereka sendiri.

Inilah yang kemudian dilakukan Jihad Rajbi, seorang pengarang dari Palestina. Dia adalah salah seorang pejuang yang bersuara melalui karya sastra. Jihad Rajbi adalah seorang penulis perempuan Palestina yang di Indonesia kemudian dikenal berkat salah satu kumpulan cerpennya yang diterjemahkan oleh Anis Matta yang berjudul “Intifadha/Peluru Ini Untuk Siapa”. Melalui beberapa cerpen di dalamnya Jihad Rajbi menyuarakan suara-suara yang tak terkatakan dari masyarakat Palestina.

Dengan menulis karya sastra yang menceritakan tentang perjuangan rakyat Palestina membebaskan diri dari dominasi Israel, Rajbi berharap karyanya itu mampu membakar semangat pembaca-pembacanya untuk terus berjuang melawan dominasi. Lain dari itu bagi pembaca di negara lain, seperti di Indonesia misalnya, pengarang ingin mendeskripsikan kepada dunia apa yang sebenarnya terjadi di negerinya. Melalui karya sastra Rajbi mengabarkan kepada dunia tentang kejahatan yang terjadi di negeri itu dan mereka tidak diam, tetapi mereka melawan dengan cara mereka masing-masing.

Itulah perlawanan karya sastra, dia tidak diartikan semata-mata perlawanan fisik belaka. Ini adalah bentuk lain dari perlawanan itu sendiri yang menggunakan medium berbeda. Dalam salah satu cerpen yang ditulis oleh Jihad Rajbi ia mengisahkan:

“Di Al Quds engkau dipaksa menjadi dewasa. Tahun-tahun berpacu bersamanya. Pada detik-detik penemuan yang pahit” (Jihad Rajbi, Kami Bukan Orang Asing).

Kutipan di atas menjelaskan kepada pembaca betapa anak-anak Palestina menjadi manusia yang berbeda dari anak-anak lain di belahan dunia manapun. Mereka tumbuh menjadi manusia dewasa lebih cepat dari usia mereka sebenarnya. Sebagai anak-anak mereka tidak diberi kesempatan untuk bermain karena tempat mereka bermain menjadi sasaran roket musuh mereka. Akhirnya mereka dipaksa untuk melawan walau dengan batu-batu sekalipun.

Anak-anak Palestina tidak diberi kesempatan yang aman untuk belajar sebagaimana anak-anak lain diusia mereka. Pendidikan mereka adalah menyaksikan tentara-tentara Israel membom rumah-rumah mereka. Dengan demikian mereka belajar bagaimana menyelamatkan diri dari bom-bom itu, sembari berharap menjadi dewasa agar tangan-tangan mereka cukup kuat untuk melontarkan batu melawan tembakan-tembakan tentara. Atau dalam bagian lain dia mengisahkan:

“Di Al Quds engkau dipaksa menjadi dewasa. Tahun-tahun berpacu bersamanya. Pada detik-detik penemuan yang pahit. Saat engkau menyadari betapa tololnya dirimu, mengira bahwa engkau lebih lemah dari musuhmu yang pengecut itu (Jihad Rajbi, Kami Bukan Orang Asing).

Dari kutipan di atas dapat dilihat bagaimana Rajbi ingin membangkitkan semangat pejuang Palestina bahwa sesungguhnya mereka lebih kuat dari pada penjajah-penjajah yang telah memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi. Efek dari rangkaian kata-kata itu adalah bagaimana kemudian sastra menjadi bagian dari perjuangan itu sendiri.

Selanjutnya dapat dilihat dari tulisan-tulisan Rajbi betapa  suara-suara kepedihan rakyat Palestina itu menyampaikan sebuah perlawanan. Begitulah Jihad Rajbi dia menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan itu dengan karya sastra. Dia melengkapi perjuangan rakyat Palestina yang melontarkan batu-batu terhadap tank-tank Israel di jalanan yang membara.

Perlawanan Jihad Rajbi melalui karya sastra bukanlah barang baru dalam dunia sastra. Perlawanan dengan sastra itu telah ditunjukkan oleh Pramoedya Ananta Toer melalui Tetralogi Bumi Manusia, ia melawan kebodohan dan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan Hamka, melalui berbagai karyanya, seperti “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, dia melawan belenggu adat masyarakatnya sendiri. Di luar negeri juga bisa dilihat bagaimana perlawanan Mario Puzo terhadap penindasan pemegang kuasa.

Bila dihubungkan dengan pertanyaan apakah karya seni (di dalamnya karya sastra) merupakan cerminan masyarakatnya? Atau apakah karya sastra hanya rekaan semata? Keduanya barangkali bisa benar, bahwa karya sastra adalah karya fiktif memang begitulah adanya, tetapi jangan pula dipungkiri bahwa karya sastra adalah cerminan dari masyarakatnya.

Dengan alasan itu pulalah mengapa sebenarnya harus dilawan pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan bahwa karya sastra tidak ada perannya dalam pembangunan bangsa. Karena ia pada dasarnya membangun peradaban manusia itu sendiri. Karya sastra adalah cerminan dari beradap atau tidaknya sebuah bangsa. Semakin tinggi peradaban yang digambarkan di dalam karya sastra terhadap sebuah bangsa, maka semakin tinggi pula peradaban bangsa itu sesungguhnya. Pada sisi lain sastra adalah suara rakyatnya.

**Azwar Sutan Malaka adalah pembaca karya sastra, menyelesaikan pendidikan sarjananya dari Universitas Andalas Padang dan menyelesaikan pendidikan pascasarjana dari Universitas Indonesia dengan Beasiswa Unggulan dari Kemdikbud tahun 2012. Dapat dihubungi pada alamat surat elektronik: azwar_nazir@yahoo.com