Tag Archives: Sastra

Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Standard
Pembantahan Stereotip dan Simbolisme dalam Novel Bunian

Hans Berten dalam bukunya Literary Theory: The Basic, disimpulkan secara bebas, menyatakan bahwa sebuah karya sastra tidaklah murni produk penulis itu sendiri, tetapi lebih jauh karya sastra adalah produk sosial budaya yang mengelilingi dan mempengaruhi si penulis. Hal ini tentunya sesuai dengan ungkapan fiksi adalah cerminan kenyataan dan kenyataan adalah sumber dari fiksi.

Read the rest of this entry

Advertisements

Novel Cindaku

Standard
Novel Cindaku

Novel Cindaku Cetak

Judul        : Cindaku

Penulis     : Azwar Sutan Malaka

Penerbit   : Kaki Langit Kencana

Cetakan    : Pertama, September 2015

Halaman  : viii + 236 hal

ISBN        : 978-602-8556-60-6

Harga      : Rp. 57.000

Novel ini sudah bisa didapatkan di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, Togamas, Sari Anggrek dan toko buku lainnya. Buku ini juga bisa dipesan melalui penulis lewat akun facebook penulis (Azwar Sutan Malaka). Buku ini berlatar budaya Minangkabau, dengan kisah bertumpu pada tokoh utama Salim Alamsyah. Cerita ini tentang perjuangan anak muda untuk mewujudkan mimpinya menjadikan hidup lebih baik.

Salim Alamsyah adalah seorang anak muda yang mewarisi tradisi Minangkabau. Ia dibesarkan oleh seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya yang dibunuh karena dituduh memiliki ilmu hitam. Kemelut batin sebagai anak dari seorang lelaki sakti yang diisukan bereinkarnasi menjadi manusia harimau (Cindaku) membuat Salim tumbuh dengan dihantui masa lalu yang suram.

Hidup yang rumit karena diisukan sebagai anak Cindaku membuat Salim meninggalkan kampung halamannya. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan Salim di kampung itu, Laila, perempuan yang menggantungkan harap padanya. Di kota Salim menanggung rindu yang berat, hingga akhirnya rindu bertahun-tahun yang disimpan itu menemukan jalannya. Ia berniat menikahi Laila, tapi beban mitos sebagai Anak Cindaku yang telah menjadi issu umum di kampung halamannya membuat Salim was-was. Luka sejarah yang pahit itu menjadi petaka dalam kisah cinta Salim dan Laila. Salim ditolak oleh orang tua Laila. Salim memberontak, dengan segenap keberaniannya. Dia menyesali kenapa orang tua Laila masih percaya tahayul, mitos-mitos yang tak pernah ada dalam kenyataan hidup itu.

Orang tua Laila menjawab bahwa dia tidak menolak Salim karena gosip Cindaku itu, tetapi ada luka lain yang membuat Ibu Laila menolak Salim sebagai menantunya. Ibu Laila menyampaikan rahasia hidup yang teramat pahit untuk didengar Salim dan Laila. Dengan berat hari Ibu Laila menceritakan bahwa dia tidak akan pernah menikahkan Laila dengan anak dari lelaki yang telah menodainya. Salim dan Laila sama-sama mewarisi darah lelaki yang sama. Laila adalah janin yang tumbuh di rahim perempuan itu dua puluh tahun yang lalu setelah diguna-guna oleh Ayah Salim. Salim tak dapat menjawab atas cerita yang semakin membuat luka di dadanya itu. Tapi Laila masih mempertanyakan cerita yang keluar dari mulut ibunya. Benarkah apa yang disampaikan ibunya? Atau hanya siasat untuk memisahkannya dari Salim yang dicintainya?

Rumi dan Syair-Syair Cinta

Standard
Rumi dan Syair-Syair Cinta

Rumi

Sumber foto: http://upload.wikimedia.org

Siapa yang tak kenal dengan Jalaluddin Rumi. Rumi, begitu orang biasa menyebut-nyebut namanya adalah penyair yang menjadi syair itu sendiri. Ia mengalir bersama syair-syair yang dia tuliskan, dia hidup di antara bait demi bait syairnya walau dia sudah meninggal sejak 5 Jumadil Akhir 672 H yang lalu. Rumi adalah sosok sukses yang kuat secara pribadi, orang yang cerdas dan dinamis, orang yang berhasil menyelami filsafat, berenang menyelami seluk lekuk di dalamnya dan ia berhasil keluar dengan selamat.

Rumi adalah pengarang sukses yang menulis karya sastra, ia hidup dengan karyanya dan ia memiliki karya sastra itu. Ini tentu saja berbeda dengan kritik Robert Escarpit, seorang kritikus sastra dari Prancis yang mengatakan bahwa sekarang ini masyarakat membuat sastra, pada zaman dahulu masyarakat memiliki sastra itu.

Pernyataan Escarpit itu akhirnya menyadarkan kita bahwa sebenarnya memang seperti itulah yang terjadi di dalam dunia sastra kita akhir-akhir ini. Gejala ini dapat dilihat bagaimana setiap minggu koran-koran di daerah dan nasional memanjakan si pembuat karya sastra (cerpen, puisi, cerbung). Media massa menyediakan ruang satu halaman penuh untuk memuat karya-karya yang ditulis oleh para pembuat karya sastra. Entah itu bercerita tentang cinta, tentang kehidupan, tentang kemanusiaan dan lain sebagainya. Bahkan para pembuat karya sastra juga bercerita tentang kemiskinan dan ketidakadilan, walau kadang mereka juga bagian dari orang-orang yang sebenarnya tidak peduli dengan kemiskinan rakyat dan ketidakadilan yang menimpa mereka.

Begitulah saat ini para pembuat karya sastra membuat karya sastra, tanpa peduli apakah mereka sendiri berhasil memiliki karya itu atau tidak. Mereka terus berkarya tanpa harus memikirkan untuk siapa karya itu, yang penting media memuatnya dan suatu saat kalau perlu penerbit menyulapnya menjadi kepingan buku dengan imbalan yang layak tentunya.

Hal lain yang lebih luas adalah siapapun bisa membuat karya sastra, pelajar, mahasiswa, seniman itu sendiri, politisi bahkan artis, mereka bisa membuat karya sastra. Pokoknya siapa yang ingin menunggangi karya sastra untuk tujuan masing-masing, bisa membuat karya sastra. Seandainya pun anda tidak bisa menulis atau malas menulis sekalipun, anda masih bisa membuat karya sastra, karena saat ini, di dunia yang serba tak jelas ini anda bisa menyewa ghostwriter untuk menjadikan anda si pembuat karya sastra. Tapi ingat, Escarpit menegaskan hanya sebatas membuat karya sastra, tidak memilikinya.

Sementara itu mari dilihat pada masa lampau, lihatlah bagaimana masyarakat hidup dengan karya sastra itu sendiri. Bagaimana tukang kaba di tanah Minang menjadikan karya sastra adalah kisah hidup dari orang-orang di sekitarnya, ia menjadikan karya sastra adalah bagian tak terpisahkan dari rakyatnya. Ia menceritakan bagaimana rakyat hidup dan bagaimana cara menghadapi hidup. Suatu hal yang penting adalah para tukang kaba itu tidak mementingkan apakah mereka tahu atau tidak tahu dengan siapa pembuat cerita-cerita itu. Hal itu tidak menjadi persoalan, karena bagi mereka yang terpenting adalah masyarakat hidup dengan karya sastra itu, tertawa bersama, bahkan menangis bersama saat mendengarkan karya-karya itu.

Pada bagian lain lihat juga bagaimana pepatah-petitih hidup di tengah-tengah masyarakat. Ia menyertai setiap gerak sosial masyarakat. Ia hadir pada berbagai kegiatan masyarakat dan harus hadir dalam berbagai upacara adat. Itulah karya sastra yang dimiliki oleh masyarakat lampau, ia hadir di tengah-tengah masyarakat yang memilikinya. Sekali lagi tanpa harus memusingkan siapa pengarangnya, siapa penciptanya siapa yang memegang hak ciptanya, itu tidak penting yang penting adalah dia hadir di tengah-tengah masyarakat. Selain kaba, pepatah-petitih, jenis sastra lama yang hidup di tengah-tengah masyarakat adalah berbagai jenis mantra, ia hidup pada bibir-bibir pawang dan dipercayai oleh masyarakatnya.

Tapi Rumi, adalah kisah lain dari penciptaan karya sastra. Rumi menciptakan syair-syairnya, ia menghidupi karyanya karena dia memakainya untuk menyatakan berbagai perasaan; cinta, kesedihan dan tentu juga ungkapan rasa gembira. Syair-syair Rumi kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala peruntukannya. Walaupun tidak sehebat sastra lama yang benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakatnya, setidaknya karya Rumi tidak sekadar dibuat, minimal dia dimiliki oleh masyarakatnya.

Lihatlah beberapa petikan syair-syair Rumi berikut ini:

…Ketika dalam dada

Nyala cinta dihidupkan

Apa pun miliknya, kecuali cinta

Lebur lenyap dihanguskan

Semua saja, otak cemerlang

Pengetahuan, buku-buku yang pernah kubaca,

Kepenyairan yang kujelang

Dan segala milik pujangga; lenyap musnah

(Ketika dalam Dadaku; Rumi)

Syair Rumi ini kemudian menjadi tarian, menjadi nyanyian karena dia membuatnya benar-benar karena dia merasakan. Ia menuliskan syair-syair cinta itu melalui pemahaman yang utuh terhadap filsafat cinta. Dia sadar cinta adalah milik Sang Penguasa, oleh karena itu ia akan hidup selama Sang Penguasa masih ada dalam hati manusia.

Lihat pula bait-bait lain dari syair Rumi ini:

Siapa pula aku, apa gerangan cinta dan benciku?

Kaulah yang pertama, dan yang terakhir jugalah kau nanti

Jadilah penghabisanku lebih bermakna dari pertamaku

Apabila kau sembunyi, akulah kafir

Apabila kau mewujud, aku si setia

Aku tak memiliki apapun selain yang telah kau berikan padaku

Apa pula yang kaucari di balik dada dan lengan bajuku

(Hanya Kau; Rumi)

Lalu pertanyaannya adalah mengapa saat ini masyarakat hanya sekadar membuat karya sastra? Sementara pada zaman dahulu masyarakat memiliki karya sastra? Atau pada garis pertemuannya mengapa Jalaluddin Rumi berhasil mencipatakan karya sastra dan kemudian masyarakat memilikinya? Jawabannya barangkali apa yang disampaikan Sapardi Djoko Damono dalam pengantar buku “Sosiologi Sastra” yang ditulis Robert Escarpit bahwa saat ini adanya sederet kegiatan dan lembaga yang berada antara benak orang yang menulis dan pikiran orang yang membaca tulisannya. Sastra bukan lagi sesuatu yang dipikirkan bagaimana harusnya ia, tetapi sastra menjadi benda budaya yang dihasilkan masyarakat sebagai bagian dari kegiatan indistri modern, yang tujuannya tak jauh dari kepentingan ekonomi, seberapa besar karya itu bisa menghasilkan uang bagi penciptanya. Lebih jauh seberapa besar peluang karya itu hadir dalam berbagai media, apakah media massa, buku atau film sekalipun.

Hal itu tentu saja berbeda dengan sastra pada zaman dahulu, dimana masyarakat tidak memikirkan dimana akan diterbitkan karya itu, bagi mereka tidak terpikirkan sejauh mana akan mendistribusikan karya sastra dan bahkan tidak memikirkan siapa yang akan membacanya. Seperti Rumi dia mencipta karya sastra dia miliki sastra itu dengan segenap hatinya, masyarakat turut memilikinya dan itu tanpa memikirkan apakah kita sekian generasi berikutnya akan membacanya atau bahkan pasti tidak dipikirkan Rumi bagaimana dunia industri mengambil manfaat ekonomi dari karya-karyanya.

Ditulis Oleh: Azwar Sutan Malaka

Dimuat di Kolom Kritik Sastra Majalah Sabili Edisi 6 Th.XX 24 Januari 2013